Saturday, April 30, 2016

Masalah dengan Kadarnya Masing-masing

Hidup, tempat berjalannya aktivitas kemanusiaan dengan segala modelnya. Kebahagiaan, kesedian, kejemuan, kegalauan biasanya menjadi aksesoris dalam skema hidup yang agak sulit untuk ditebak.

Kita manusia, sepertinya juga tidak diminta untuk banyak menebak apa yang besok akan terjadi, hanya saja kita diperintahkan agar hari ini lebih baik dari kemarin dan tentunya kebaikan dalam definisi yang tak menyimpang dari kalam Ilahi.

Pembahasan mungkin akan terlalu lebar bila dibahas semua sub-sub skema yang terjadi di kehidupan ini. Sedikit saja pembahasan difokuskan pada peristiwa yang biasa kita sebut "masalah" yang sering terjadi pada perjalanan hidup seseorang.

Penulis bukanlah orang yang tidak punya masalah ataupun orang yang sudah selesai dengan masalahnya. Penulis juga tidak selalu menjadi sosok yang berhasil dalam menyelesaikan masalahnya. Namun disini penulis hanya ingin berbagi sedikit akan definisi masalah yang sering terjadi di kehidupan kita sebagai manusia.

Yang pertama, masalah mungkin terkesan bermakna negatif namun tak selalu dengan hakikat keberadaanya. Mungkin apabila kita diminta memberikan difinisi kasar terkait masalah, maka jawaban kita adalah hal buruk baik secara langsung maupun tidak langsung menghabat terjadinya apa-apa yang kita anggap ideal dalam hidup ini. Namun apa-apa yang kita tuju itu masih dalam tataran akal yang masih benar maupun salah.

Pernahkan kita mendapatkan sebuah kepemahaman ketika terjadinya suatu masalah yang kita anggap mengacaukan di awal lalu diakhir kita berujar, "syukur ya dulu terjadi seperti itu, mungkin apabila tidak terjadi saya akan lebih tersesat lebih jauh." Ya selalu ada makna baik yang tertunda yang Allah siapkan bagi orang yang sabar ketika mendapat masalah.

Yang kedua, masalah itu ibarat soal dalam ujian sekolah. Setiap siswa kelas satu harus menempuh ujian kenaikan menuju kelas dua dan begitu seterusnya sampai dia bisa memperoleh jenjang yang lebih tinggi lagi. Kalo belum lulus terpaksa harus membetahkan diri dengan kelas yang lama. Begitu kehidupan, kita harus menyelesaikan masalah yang tergelar dengan segala persoalannya agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Yang ketiga, saya pernah mendengar bahwa masalah akan menjadi lebih besar bila disampaikan dan akan menghilang sendirinya ketika didiamkan. Menurut saya ini merupakan kalimat yang benar pada kontek yang satu namun belum tentu pada kontek yang lain. Masalah memang bukan hal yang pantas disebarkan tanpa saringan. Seperti tak layaknya masalah ranjang diketahui kalayak ramai. Pengaduan total hanya pantas dipanjatkan pada Sang pemelihara alam namun juga tak salah kita sedikit meminta masukan pada orang yang sekiranya tak ada cacat dalam hal kepercayaan.

Yang keempat, harus kita tau bahwa semua orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri dengan kadar yang juga beraneka ragam. Kesalahan mendasar kita biasanya adalah melihat kondisi orang lain dengan kacamata yang tidak proposional. Memposisikan diri serasa yang paling menderita dan meposisikan orang lain seakan yang paling bahagia. Apakah ini adil? Sekali lagi, Allah tau yang terbaik bagi diri kita, karena tak mungkin siswa kelas satu diberi soal kelas dua ataupun sebaliknya. Semua diberi berdasarkan kadarnya namun untuk tujuan yang sama. Maka lihatlah secara proposional, walaupun kelihatan sulit untuk melakukannya.

Mungkin itu sedikit buah renungan, tetap bersabar dalam kondisi apapun. Semua yang kita terima kini adalah sebuah pemberian yang terbaik sampai waktu yang telah ditentukan. Belajar sebelum ujian, berusaha mengerkan soal sebaik mungkin, dan tak putusnya doa sepertinya menjadi opsi yang terbaik.

Thursday, April 28, 2016

Siklus Kenangan

Ada beberapa ahli sejarah berkata, katanya dalam perjalanan hidup manusia yang ada hanyalah siklus. Jaman kemajuan kemudian hancur, jaman kemajuan kemudian hancur, dan senterusnya. Benar atau tidak silahkan renungkan sendiri.

Bahkan beberapa dari kita terkadang merasakan suatu momen dimana momen tersebut pernah kita lalui, "eh, kok kayaknya saya pernah ngalamin ini ya..." dan banyak fenomena yang beragam, biasanya di antara kita momennya berbeda-beda. Istilah kerennya dan saya juga baru tau baru-baru ini, ternyata peristiwa tersebut disebut "dejavu".

Baik dejavu atau bukan terkadang membuat kesan tersendiri pada suasana hati kita. Dan biasanya yang memberikan kesan mendalam pada hati adalah siklus yang terjadi di dunia nyata.

Siklus itu bisa jadi perpisahaan, pertemuan, maupun momen-momen lain yang biasanya terjadi tidak hanya pada satu kali kesempatan.

Siklus yang sepertinya sebentar lagi juga saya hadapi bisa jadi merupakan suatu perpisahan. Dulu saya harus rela berpisah sementara dengan keluarga untuk menempuh bangku kuliah, dan hal tersebut cukup membuat saya mengeluarkan air mata pada hari pertama ditinggal ayam saya sendiri di Jogja. Dan yang sebentar lagi akan saya alami adalah perpisahan pada fase selanjutnya. Perpisahan untuk meninggalkan Jogja dengan segala kenangan di dalamnya.

Namun semua itu adalah hidup, harus dihadapi demi menggapai harapan yang lebih baik lagi.

Dan berikut ada beberapa tips, yang mungkin bisa teman lakukan apabila teman-teman menghadapi siklus pada hidup teman-teman semua, intinya agar mudah beradaptasi, baik itu perpisahan maupun pertemuan.

Jadi tips yang pertama adalah yakinkan dalam hati teman-teman semua bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik, tips yang kedua sediakan folder baru dibenak teman-teman semua baik untuk menyimpan kenangan yang ditinggalkan maupun kenangan yang akan datang, tips yang ketiga segera cari kesibukan ataupun mencari teman baru agar tak memikirkan yang sudah-sudah, dan yang terakhir jelajahi dunia baru yang teman-teman dapatkan tidak lain supaya kita sadar bahwa dunia ini luas dan menakjubkan.

Intinya dari semua penjabaran di atas adalah keep move on bro......

Wednesday, April 27, 2016

Memulai lagi

Sudah agak lama saya tak menulis kembali di blog pribadi saya ini. Mungkin sekitar satu tahun, entah lebih entah kurang saya kurang tahu pasti. Rasanya agak malas melihat waktu tenggang di arsip.

Kemarin semangat-semangatnya menulis ketika habis pulang KKN, maklum banyak rasa yang sulit dilupakan, mungkin sedikit berlebihan, namun gimana lagi itu yang terjadi, dan akhirnya saya memaklumi karena temen-teman saya yang lain juga kebanyakan seperti itu, rindu masa-masa KKN.                                                                              
Dan sekarang, sepertinya saya rindu untuk menulis kembali, menulis hal-hal yang entah penting atau tidak, yang penting saya lakukan apa yang sering disampaikan saat seminar kepenulisan, "tulis saja apa yang ada di benak Anda, apa saja, tulislah! Dan saksikan nanti Anda akan tahu sebenarnya tipe penulis seperti apakah Anda ini."

Ya sudah akhirnya kuputuskan untuk menulis lagi. Namun sebelum itu saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar besarkan, dikalau dalam tulisan saya kedepan banyak hal yang "kurang bermanfaat" saya mohon maaf.                                                                  
Saya juga akan mengusahakan setiap postingan saya akan saya publikasikan, minimal di google plus, hehe.                                                                                               Ya sudah, mungkin sampai sini dulu, saya harap teman-teman semua menjadi saksi, apakah saya akan istiqomah atau tidak dalam kegiatan menulis ini.                                                                
Wassalam....

Monday, November 9, 2015

Duduk Sendiri

Lembap terasa udara sore ini
Menguap dan merasuk hingga relung hati
Teringat kembali masa dikala matahari sedikit tertutupi
Di sana kami menari dalam bayang-bayang sejuknya mentari

Kini ku terduduk sendiri
Melihat krumunan lebah terbang hilir mudik
Entah apa yang dia cari
Tapi setiap hinggapnya selalu membawa berarti

Kembali ingin ku pergi
Pergi dan untuk kembali
Karena ku tahu, jangan terlalu lama…
Agar rindu berbunga dan mengendap, erat…

Pasti nanti ku pergi
Namun kini biarkan ku duduk sendiri
Ku ingin berbenah dulu,  ada yang perlu ku perbaiki
Biar nanti tak lekang, kan ku ukir perlahan dan dengan segenap perasaan….


Friday, September 4, 2015

Lagu Alam

Pagi ini, Sabtu 05 September 2015, tepatnya pukul 7:07 pagi. Aku coba baringkan tubuh. Merenggangkan sedikit otot yang menegang, sehabis lari pagi di sekitar kampus tercinta. Bolehlah ku sebut kampus tercinta, walaupun status sekarang belum lagi menjadi mahasiswa di sana.

Dalam perbaringan di kamar 3 x 3 meter ini, terdengar sebuah lagu, haniif yang memutarnya, sahabat sekamar. Lagu yang bisa dibilang lagu klasik, lagu yang mungkin menjadi konsumsi para generasi tua, lagu Ebiet G. Ade tepatnya. Lagu yang enak didengar, terutama bagi yang ingin mengenang masa indah yang telah berlalu, mengenang perjuangan hidup maupun mengenang percintaan. Maklum, walaupun saya termasuk generasi muda, tapi saya masih sering mendengar lagu klasik ini, baik di kos maupun di kampus ketika tak ada kerjaan. Tak jarang juga saya mendengar lagu Koes Plus maupun lagu-lagu Chrisye, lumayan untuk mengobati kenangan masa lalu, yah… yang mungkin masih sebentar berlalu tersebut.

Terus ku menghayati, membawa lamunan ku untuk mengingat lagi masa-masa KKN ketika di Raja Ampat. Suasana pesisir, desiran laut, dan ramahnya kampung menurut ku sangat cocok dengan lagu Ebiet G. Ade ini. Lagu alam yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh yang punya kenangan manis, pengalaman yang tentunya sulit sekali dilupakan.

Ku teruskan lamunan, tak ingin berakhir di satu sisi lamunan, dia terus mencari sensasinya. Akhirnya lamunan itu berakhir pada masa-masa kecil ku. Masa kecil yang banyak dihabiskan dengan bermain. Sehabis sekolah langsung ku singsingkan baju, ku ganti dengan baju sederharna, mungkin sedikit sobek, tapi yang pasti itu aman dan tak membuatku was-was ketika ku gunakan berlari-lari dengan teman-teman, ketika ku gunakan untuk terjun ke kubangan air, ketika ku gunakan berlari-lari di sawah yang penuh dengar lumpur. Oooh… betapa senangnya masa itu, masa ketika alam tak menjadi batasan bagi seorang bocah dengan jiwa yang bebas. Semua lepas, terbang, mungkin sampai kayangan.

Ku bayangkan saat itu, aneka permainan yang menjadi barang mahal anak-anak jaman sekarang. Bola kasti, lompat karet, kelereng, kejar benteng, tapak gunung, tok dal, dan mengejar layangan memenuhi kembali pikiran ku saat ini. Masa yang tak mungkin lagi terulang. Masa ketika permainan tak hanya menggerakan jari pada joy stick, masa ketika tangan tak hanya memegang benda berbentuk segi empat sampai sibuk sendiri. Masa itu adalah masa ketika yang dilatih tak hanya fisik, tapi juga pikiran, strategi, kerjasama, dan rasa tenggang rasa terhadap sesama. Permainan yang penuh makna.

Masa itu adalah masa, ketika setiap suasana layaknya lagu alam, yang siap diputar kembali dalam lamunan. Lagu alam yang akan menimbulkan rasa rindu untuk terus dikenang. Latarnya adalah sawah, gunung, dan pelataran. Penari latarnya adalah teman kita yang berlari sana sini ntuk mencari indahnya tantangan. Betul-betul lagu alam, yang hanya bisa bernostalgia dalam lamunan. Semoga anak-anak jaman sekarang bisa menikmatinya kembali, dimana mereka bisa membuat lagu alamnya sendiri, mereka bisa membuat latar panggungnya sendiri, mereka bisa menentukan penari latarnya sendiri. Sehingga mereka bisa tersenyum-tersenyum sendiri dalam lamunan, seperti aku saat ini.

Wednesday, September 2, 2015

Peraduan Ku

Banyak rasa tercipta disana
Baik sedih maupun suka
Namun kini hanya bisa tertawa
Ternyata semua indah pada akhirnya

Terkadang tersenyum sendiri
Memandang langit yang berselimut sepi
Ternyata aku tak sendiri
Ada mereka yang menemani

Terkadang menangis sendiri
Merasa hidup yang penuh narasi
Sampai tak kuat menghadapi
Namun mereka tegar dan menopangku dari sisi

Jauh aku mungkin telah berjalan
Atau mungkin hanya perasaan
Dan ternyata aku masih di pelataran
Malambaikan tangan, dan berpura-pura air mata berguguran

Oh ternyata tidak, aku baru setengah jalan
Tengah jalan yang banyak rayuan
Tengah jalan yang terkadang memeras perasaan
Tengah jalan yang mencegah ntuk kembali ke peraduan

Sepertinya memang harus terus maju
Maju sambil memikirkan yang dibelakang
Tak perduli hati beradu
Karena yang ku pikirkan adalah masa depan

Bukan aku tak peduli
Apalagi mencoba untuk lari
Aku hanyalah pria yang mencoba terus berdiri
Walau dalam langkah terbanyang adanya perih

Lebih baik aku beristirahat dulu
Memikirkan yang di belakang ataupun yang di hadapanku
Merenungi semua jalan ceritaku
Agar semua indah dan layak dikenang selalu 

Tuesday, August 18, 2015

Bayangan

Bisakah Kau dengar suaranya Kawan…
Riuh bunyi ombak melambai, memanggilmu, mengajakmu mendengar indahnya lagu alam
Bisakah Kau dengar suaranya Kawan…
Gesekan batang dan daun yang saling beradu, meminta tuk dihampiri
Bisakah Kau dengan suaranya kawan…
Kumpulan burung bersiul, seakan tak ada nada sumbang dalam setiap tangga nada
Bisakah kau dengar suaranya Kawan…
Sentak langkah kaki berlari, larinya anak bersenda gurau dengan alam


Terlalu banyak gambaran, terlalu banyak nada, terlalu banyak semangat yang terbawa
Sentuhan alam yang sungguh melenakan
Ingin dipeluk, dicium, diraba setiap lekuk indah rupanya
Oooh… kapan aku bisa?

Negeri ku ini memang pantas dicintai
Bahkan bagi mereka yang tak mau mati disini
Namun rasa nikmat menuntutnya tuk menyinggahkan diri
Oooh… Kapan kau pergi?

Beginikan ketika hidup diserang rindu
Tak penting dengan kapan pertemuan beradu
Hanya ingin Satu
Bertemu…!!! Dan kita menyatu…

Kawan…
Sudahkan kau terbayang? akan dunia yang mirip kayangan
Kawan…
Sudahkan Kau terbayang? nampaknya belum
Kawan…
Itu negeriku, rumahku, yang kesannya melebihi berjuta bayangan