Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, September 4, 2015

Lagu Alam

Pagi ini, Sabtu 05 September 2015, tepatnya pukul 7:07 pagi. Aku coba baringkan tubuh. Merenggangkan sedikit otot yang menegang, sehabis lari pagi di sekitar kampus tercinta. Bolehlah ku sebut kampus tercinta, walaupun status sekarang belum lagi menjadi mahasiswa di sana.

Dalam perbaringan di kamar 3 x 3 meter ini, terdengar sebuah lagu, haniif yang memutarnya, sahabat sekamar. Lagu yang bisa dibilang lagu klasik, lagu yang mungkin menjadi konsumsi para generasi tua, lagu Ebiet G. Ade tepatnya. Lagu yang enak didengar, terutama bagi yang ingin mengenang masa indah yang telah berlalu, mengenang perjuangan hidup maupun mengenang percintaan. Maklum, walaupun saya termasuk generasi muda, tapi saya masih sering mendengar lagu klasik ini, baik di kos maupun di kampus ketika tak ada kerjaan. Tak jarang juga saya mendengar lagu Koes Plus maupun lagu-lagu Chrisye, lumayan untuk mengobati kenangan masa lalu, yah… yang mungkin masih sebentar berlalu tersebut.

Terus ku menghayati, membawa lamunan ku untuk mengingat lagi masa-masa KKN ketika di Raja Ampat. Suasana pesisir, desiran laut, dan ramahnya kampung menurut ku sangat cocok dengan lagu Ebiet G. Ade ini. Lagu alam yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh yang punya kenangan manis, pengalaman yang tentunya sulit sekali dilupakan.

Ku teruskan lamunan, tak ingin berakhir di satu sisi lamunan, dia terus mencari sensasinya. Akhirnya lamunan itu berakhir pada masa-masa kecil ku. Masa kecil yang banyak dihabiskan dengan bermain. Sehabis sekolah langsung ku singsingkan baju, ku ganti dengan baju sederharna, mungkin sedikit sobek, tapi yang pasti itu aman dan tak membuatku was-was ketika ku gunakan berlari-lari dengan teman-teman, ketika ku gunakan untuk terjun ke kubangan air, ketika ku gunakan berlari-lari di sawah yang penuh dengar lumpur. Oooh… betapa senangnya masa itu, masa ketika alam tak menjadi batasan bagi seorang bocah dengan jiwa yang bebas. Semua lepas, terbang, mungkin sampai kayangan.

Ku bayangkan saat itu, aneka permainan yang menjadi barang mahal anak-anak jaman sekarang. Bola kasti, lompat karet, kelereng, kejar benteng, tapak gunung, tok dal, dan mengejar layangan memenuhi kembali pikiran ku saat ini. Masa yang tak mungkin lagi terulang. Masa ketika permainan tak hanya menggerakan jari pada joy stick, masa ketika tangan tak hanya memegang benda berbentuk segi empat sampai sibuk sendiri. Masa itu adalah masa ketika yang dilatih tak hanya fisik, tapi juga pikiran, strategi, kerjasama, dan rasa tenggang rasa terhadap sesama. Permainan yang penuh makna.

Masa itu adalah masa, ketika setiap suasana layaknya lagu alam, yang siap diputar kembali dalam lamunan. Lagu alam yang akan menimbulkan rasa rindu untuk terus dikenang. Latarnya adalah sawah, gunung, dan pelataran. Penari latarnya adalah teman kita yang berlari sana sini ntuk mencari indahnya tantangan. Betul-betul lagu alam, yang hanya bisa bernostalgia dalam lamunan. Semoga anak-anak jaman sekarang bisa menikmatinya kembali, dimana mereka bisa membuat lagu alamnya sendiri, mereka bisa membuat latar panggungnya sendiri, mereka bisa menentukan penari latarnya sendiri. Sehingga mereka bisa tersenyum-tersenyum sendiri dalam lamunan, seperti aku saat ini.

Sunday, January 4, 2015

Asa Di Relung Hati


Nampaknya kekayaanmu bukan hanya sekedar mimpi. Kesekian kali ku melihat, kesekian kali jua ku merasa kagum dan tertegun, terdiam, hanya bisa membayangkan, kapan sekiranya aku bisa berkeliling mengambil makna di setiap penciptaan.
                
Ku tulis kembali setiap bait ungkapan hati, ungkapan hati yang masih terbelenggu dan belum terwarnai. Ku lihat kau hanya dari rangkaian cerita yang orang lain suguhkan. Semua ku lakukan agar ku semakin mencintaimu, agar aku semakin memahamimu, dan akhirnya aku mampu memelukmu.
                
Hanya bisa bersyukur. Syukur karena rasa cinta ini telah tubuh, tumbuh menghiasi jiwa yang tadinya gersang akan kebanggaan. Namun kini dia mulai tumbuh, tumbuh diantara ketidakpedulian. Kebanggaan yang tumbuh di tengah jiwa yang hampir kandas akan tujuan.
                
Kini semua berbeda. Harapan kini semakin luas adanya. Aku tak mau hidup hanya memikirkan besok ingin makan apa, besok biaya anak sekolah bagaimana, besok dan besok, sungguh aku tak mau. Ku berharap itu sudah terpenuhi, tak perlu menjejali ruang hati, dan aku bisa terus berbakti.
                
Mungkin ku terlalu berani mengungkap setiap asa, padahal langkah ku kini masih buruk adanya. Mengurus diri sendiri saja belum selesai. Hidup masih sibuk dengan urusan pribadi, belum bisa mandiri, maka mana mungkin bisa berdarma bakti.
                
Aku yakin cerita akan dirimu tidaklah sederhana. Setiap lekukmu adalah serangkaian buah hikmah. Hikmah yang akan didapatkan ketika mereka berani menyelami tanpa perduli banyak orang mengingkari. Itulah yang membuatku kini berani bermimpi, berani menulis setiap lembar target menuju pelukmu. Merangkai asa walau terkadang banyak alasan untuk bisa berputus asa.
               
Maaf, ketika ku terlalu banyak berceloteh lewat tulisan. Namun semuanya belum terukir abadi dalam nisan. Ku harap semua tulisan ini mengingatkan ku kembali dikala hati sedah lemah, dikala hati patah arah, dikala hati butuh akan beberapa petuah. Mohon doakan selalu, agar aku segera dapat memelukmu dan membuat cerita betapa besarnya rasa banggaku padamu.

Monday, December 1, 2014

Halaman Sekolah Ku Lumpur Kawan


Sekolah yang nyaman, mungkin bukan hal yang aneh bagi kita, penduduk Indonesia kelas menengah ke atas. Fasilitas sekolah yang lengkap juga tak berbeda halnya, tersedia dan mampu kita gunakan kapan saja. Apalagi Anda yang bersekolah di kota-kota besar, terutama daerah Jawa, semua itu sudah menjadi barang lumrah. Hal yang membuat kita banyak melayangkan protes, ketika hanya kurang sedikit saja dari apa yang diharapkan, tanpa pernah mau mensyukuri. Terlalu sering mendongakkan kepala, namun jarang sekali melihat kesamping, apalagi ke bawah, mungkin tak pernah.

Kesadaran yang ada mungkin kini masih kurang, tapi bukan berarti tak bisa dibentuk dalam diri kita masing-masing. Terapinya mudah, melihatlah kebawah, jika tak bisa, bolehlah melihat kesamping kiri dan kanan. Banyak saudara kita yang masing asing dengan kata bangku sekolah, tidak usah sampai kata menuntut fasilitas, sudah ada guru yang mengajar saja, mereka sudah banyak berucap syukur. Walau atapnya berupa langit, walau dindingnya berupa barisan pohon-pohon, dan walau lantai hanya berupa tanah yang terkadang berubah menjadi lumpur. Mereka selalu mencoba untuk menikmatinya.

Juli 2014, tepat awal bulan Ramadhan. Perjalanan kita lakukan, sekelompok anggota KKN PPB 01 UGM yang ingin belajar bagaimana kehidupan di tanah Papua. Tanah yang katanya indah, tanah yang katanya kaya akan sumber daya alam, dan tanah yang katanya menjadi sumber berbagai hasil tambang. Sekitar 4 jam kami lakukan perjalanan dari Yogyakarta sampai di Sorong. Sesampainya di Bandara Dominique Edward Osok, semua mulai berbeda, suhu lingkungan sekitar yang sedikit panas dan karakteristik warganya mulai menyapa kita. Tibanya malam hari, sekitar jam 01.00 malam waktu Indonesia timur, perjalanan kami lanjutkan ke kampung tempat kami melakukan Kuliah Kerja Nyata.

Singkat cerita, suasana pagi dengan pemandangan laut sudah terlihat di mana-mana, menyapa pagi kita, setelah bangun dari lelapnya malam. Sampailah kita di sebuah kampung, kampung pesisir, dimana kita akan bernaung satu bulan lamanya. Kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat. Tempat kami belajar menerapkan ilmu yang telah kami peroleh di bangku perkuliahan.

Alam Kampung Fafanlap sungguh indah, tak nampak adanya kendaraan, bahkan pesawat tak terlihat sibuk lalu lalang di langit. Semua itu membuat udara di kampung ini terasa sangat segar. Ditambah lagi pesona pulau-pulau kecil, menghiasi setiap lekuk indahnya tanah Papua. Lautnya pun sangat indah, banyak terdapat karang di dalamnya, semakin indah dengan banyaknya ikan yang hilir mudik untuk memamerkan corak-corak siripnya.

Terpuaskan dengan indahnya Kampung Fafanlap, ku coba berkeliling untuk melihat kondisi kampung. Entah mengapa salah satu sahabat mengajak pergi ke sebuah sekolah SMP di kampung Fafanlap ini. Berjalanlah kami, melewati kumpulan perumahan warga, dan senyum sapa pun selalu berbunga dari wajah-wajah warga yang kami jumpai.

Sampailah kami disebuah SMP, SMP N 14 Raja Ampat. Dimana jalan Tutwuri Handayani mengantarkan kami ke gerbang sekolah itu. Masuklah kami kehalamannya, yang kemudian dilanjutkan kebagian-bagian sekolah yang lain. Selama perjalanan kami di SMP tersebut, kami cukup sering mengucapkan rasa syukur. Mengapa? Karena sekolah kami dulu cukup bagus daripada SMP N 14 Raja Ampat ini. Sekolah kami memiliki banyak ruang kelas, namun sekolah disini hanya 3 ruang kelas yang bisa dipakai dari sekitar tujuh kelas yang ada. Cat sekolah kami cukup bagus dan halus, namun sekolah disini jangankan cat, bolong dinding dengan senantiasa menjadi penghias dinding dimana-mana. Sekolah kami berlantai keramik yang terkadang bisa kita gunakan sebagai cermin, namun disekolah ini, hanya beberapa yang berkeramik, itu pun keramik semen yang terkadang terkelupas disana-sini. Fasilitas sekolah kami lengkap, mau apa? Eksperimen ini dan itu semuanya bisa. Namun di sekolah ini? kau bisa menjawabnya sendiri kawan. Sekolah kami berhalaman luas, dengan indahnya bunga dimana-mana, kau bisa berlari tanpa perlu takut dengan lumpur yang akan membuat mu jatuh, tapi disini? kamu pasti iri kawan, halaman sekolahnya sangat luas, berbatas bukit-bukit, berhias indahnya tanaman bakau, dan arena bermain lumpur setiap saat bisa kami nikmati, tanpa perduli baju ini menjadi kotor.

Terserah mau menganggap ungkapan saya diatas seperti apa. Pastinya ini hanya kiasan yang mungkin sarat sindiran. Negeri ini sungguh kaya, apa yang kau mau semuanya ada. Seharusnya kau bisa makan tanpa perlu khawatir dengan tidak adanya uang dan seharusnya kau bisa bersekolah tanpa perlu khawatir dengan adanya biaya. Dilema, mungkin itu kata yang pantas mewakili semuanya. Daerah yang kaya akan sumber daya alam tak akan menjamin adanya kesejahteraan di dalamnya.

Mungkin negeri ini terlalu luas, sehingga tak seharusnya kita berpangku tangan dan menyerangkan semua urusan kepada pemerintah. Sepatutnya kita bergandengan tangan, bersatu padu untuk meningkatan kualitas pendidikan di negeri kita ini. Anak-anak akan bersekolah dengan tenang tanpa perlu takut bukunya akan basah karena terkena air dari atas atap, anak-anak akan berfikir dengan jernih tanpa perlu takut tubuhnya akan tertimpa dinding atau atap, dan anak-anak akan bersekolah dengan nyaman tanpa perlu merasa kedinginan karena udara yang masuk melalui lubang di dinding. Sehingga cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan segera tercapai. Ketercapaian tersebut bukan hanya berdasarkan parameter kelompok atau tingkat ekonomi tertentu, melainkan seluruh warga negara Indonesia, dimana pun berada dan dalam kondisi apapun.

Sunday, November 16, 2014

Negeri Surga

Kurang kaya apa negara ini…?
Gugusan pulau berbalut pasir nan indah tak lekang selalu kau pandang
Kurang kaya apa negara ini…?
Hutan hijau nan rimbun selalu menyejukkan mata dan takkan membuatmu jemu
Kurang kaya apa negara ini…?
Makhluknya banyak, dan termasuk kau juga sebagai penghias negeri ini
Kurang kaya apa negara ini…?
Semuanya bisa kau makan, tanpa perduli adanya uang
Kurang kaya apa negara ini…?
Semuanya hanya bisa membuat negara lain iri


Namun apa gunanya…?
Ketika semua hanya diurus sendiri
Namun apa gunanya…?
Ketika semua diurus berdasarkan egoisme sendiri
Namun apa gunanya…?
Kepentingan negeri lain diutamakan daripada putra putrinya sendiri
Namun apa gunanya…?
Semua kau tumpuk dan menghantarkan kau sampai mati

Mungkin mereka masih bersabar…
Menahan lapar yang selalu mereka tahan
Mungkin mereka masih sabar…
Menahan air mata yang terus mengalir keluar
Mungkin mereka masih sabar…
Malam selalu gelap hanya berhiaskan bintang-bintang
Mungkin mereka masih sabar…
Menahan sakit, dan dokter pun tak kunjung datang
Mungkin mereka masih sabar…
Mengais ilmu hanya dengan bermodal perjuangan
Mungkin mereka masih sabar…
Menerima yang ada dan masih menunggu sebuah perubahan datang

Negeri ini terlalu luas dan terlalu indah
Terlalu banyak yang perlu disinggahi demi memuaskan hasrat hati
Terlalu banyak cinta yang perlu kita tebar nantinya
Terlalu banyak air mata yang perlu kita siapkan
Terlalu banyak peluh yang perlu kita bersihkan
Indonesia……  Indonesia……

Monday, October 27, 2014

Setitik Noda Hitam

Kala udara semakin terasa dingin. Beberapa tubuh tim KKN PPB 01 masih lelap dalam peraduan. Tertidur pulas, terbuai dalam indahnya mimpi. Deburan ombak yang tak pernah bosan menerjang karang, masih terdengar jelas suaranya. Suasana malam kami, selama kurang lebih 50 hari ini memang akan terasa tak biasa. Malam hari yang selalu berhias bintang. Tak ada cahaya gedung besar yang mengaburkan indahnya malam. Malam di pinggir dermaga. Dermaga kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat. 

Namun malam itu ada yang berbeda, suara yang terdengar tak lagi sama. Terbangunlah tubuh ini, mencoba meranjakkan kaki ke arah suara itu berasal. Mendekati dengan penuh tanda tanya. Mengapa sepagi ini masih saja ada ramai-ramai? Padahal jam sudah menunjukkan jam setengah 4 pagi. Apakah ada tahlillan? Tak mungkin, mana ada tahlillan menggunkan suara sound sistem dengan irama yang menghentak-hentak. 

"Malam yang indah, semoga senantiasa berbalut keberkahan...."
Sesampainya di dekat jendela, mata ini mulai melirik. Nampak di sana, di balai desa, balai yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Terlihat beberapa tubuh sedang berliak liuk, berjoget dengan asiknya, seakan dari terbenamnya matahari sampai terbit lagi hanya mereka yang punya. Saling berhadapan satu sama lain. Tak ada pembeda atara perempuan dan laki-laki. Terhipnotis oleh balutan musik dan dinginnya malam.

Mata ini pun sesekali berusaha untuk memfokuskan apa yang dilihat. Menghusap, mungkin saja masih ada kotoran mata yang masih mengganjal dan mengkaburkan penglihatan. Namun ternyata begitu adanya, diri ini tidak sedang bermimpi, apalagi sama-sama ikut berjoget dengan mereka. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Pertanyaan itu pun timbul yang entah dari mana asalnya. 

Kejadian malam itu mengingatkanku akan budaya yang juga marak terjadi diperkotaan. Kumpulan remaja bahkan ada juga golongan tua yang kini sudah jauh dari kata moral. Salah satu kebiasaanya adalah mengunjungi club-club malam. Berjoget, berliak-liuk dengan para biduan. Seakan dunia tak akan berakhir, seakan mereka akan hidup selamanya. Namun bukan pencegahan. Tempat-tempat itu seakan semakin terasa legal. Keramaiannya mengalahkan masjid dan keras suaranya mengalahkan suara kajian keislaman di masjid-masjid. Apakah yang saya lihat pada malam itu, malam di kampung Fafanlap, sama dengan kebiasaan di perkotaan besar? entahlah.

Budaya pesta joget ini memang sudah menjadi barang lumrah disana. Pesta yang diadakan ketika ada perayaan hajat tertentu. Baik sunatan, syukuran, biasanya di akhiri dengan pesta joget pada malam harinya. Budaya ini tumbuh bak jamur di musim hujan, tak hanya di Fafanlap namun juga di kampung-kampung lainnya. Aku pun bertanya dengan salah seorang kawanku, yang kebetulan dia orang timur. Maluku utara tepatnya. Dia juga mengutarakan, bahwa budaya ini tidak hanya terjadi di daerah tempat kita KKN. Hampir di setiap daerah, daerah timur khususnya, sudah mengakar akan budaya ini. Setiap perayaan selalu diakhiri dengan pesta joget. Pesta yang selalu diiringi dengan musik khas timur dan bernuansa hip-hop ini.

Alhamdulillah hati ini masih menyimpan keprihatinan, berarti masih peka dengan kondisi sekitar. Hatiku semakin sesak, setelah melihat bahwa yang ikut berjoget pada malam itu tidak hanya kalangan muda mudi yang sudah cukup umur. Namun  nampak oleh mataku, ada beberapa anak yang masih terlihat belia juga turut larut dalam pesta joget itu. Mungkin usianya masih menginjak sekolah SMP. Aksi anak belia tersebut juga tidak kalah gesitnya dalam meliak-liukan tubuh. Berjoget maju mundur dan sesekali menggerakkan bagian tubuh lain, menikmati dunia yang terasa indah pada malam itu dan sangat sia-sia apabila dilewati begitu saja.

Setelah beberapa lama aku menyaksikan kejadian itu. Tubuh ini pun kembali ke tempat pembaringan. Berbaring, merebahkan tubuh, dengan jutaan kegelisahaan tersimpan dalam benak. Mengapa kampung seindah ini, kampung dengan penduduk mayoritas muslim, ada budaya seperti itu? Kalangan muda, generasi penerus, yang diharapkan membawa perubahan. Mengapa tercemari budaya yang menurut kami sangat tidak baik? Budaya glamor, budaya senang-senang yang sungguh melewati batas. Sudah tak ada  lagi batas antara perempuan dan laki-laki dan mereka saat itu saling berhadapan satu sama lainnya.

Mungkin akan berbeda halnya, ketika tarian yang dilakukan merupakan tarian tradisional. Pelaksanaannya juga tidak terlalu larut malam. Semua masih dalam pengawasan orang tua. Gerakkan tarian yang dilakukan berdasarkan nilai seni, bukan nilai sensual yang selalu dikedepankan. Tak hanyal anak-anak pun bisa terkontrol dengan baik. Rasa cinta juga dapat tumbuh dalam hati mereka, cinta akan kebudayaan dan kesenian tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan.

Sudah banyak cerita yang kami dapatkan terkait dampak negatif budaya joget ini, khususnya di kampung Fafanlap. Tak perlu kami sampaikan satu persatu, silahkan anda pikirkan sendiri. Semua sudah tergambar jelas, ketika dimulai dengan hal yang kurang baik maka hal yang kurang baik lainnya juga pasti ikut andil. Mungkin saat ini hanya doa dan nasihat yang masih tersampaikan untuk adik-adik kita disana. Sedikit mengingatkan akan jeleknya budaya joget tersebut. Sehingga kelak mereka tidak melakukannya lagi, berganti dengan aktifitas yang lebih baik, lebih berguna, dan tentunya lebih berkah. Kampung Fafanlap pun lebih bersinar, tidak hanya dari alamnya yang indah, tidak hanya dari lautnya yang menentramkan hati, dan tidak hanya dari udaranya yang melegakan rongga dada. Namun dari hati dan jiwa penduduknya yang senantiasa bersinar, terjauh dari kegiatan yang tidak bermanfaat dan merusak kepribadian pemuda-pemudinya.  

Tuesday, October 21, 2014

Maaf dan Doa, Wahai Ayah

"Wahai ayahku"
Malam ini, tepatnya Rabu, 21 September 2014. Malam yang berjalan seperti biasanya. Sendiri di sudut kamar, bertemankan suara desiran kipas laptop yang tampak semakin kencang karena umurnya yang semakin tua. Tampak mata memerah, terhanyut dalam lamunan. Pastinya bukan lamunan kosong. Lamunan penghayatan akan kisah yang sedang disaksikan.
                
Layar laptopku masih setia menemani. Film yang mungkin tergolong lawas masih terputar apik di sana. Ya mungkin tidak terlalu lawas, namun mengingat banyaknya produksi film saat ini membuat film yang baru saja diputar sudah nampak jadul ketika film yang lainnya mulai bermunculan.

Tampan Tailor, sebuah film yang sarat makna, tak sesederhana judulnya. Film yang dibintangi Vino G. Bastian ini menceritakan tentang sosok ayah yang berjuang merawat buah hatinya, semenjak kematian istrinya karena kanker. Rumah dan gerai tempat Topan, nama Vino dalam film tersebut, bekerja sebagai penjahit juga harus rela untuk dijual demi biaya pengobatan sang istri. Tak hanya merawat, Topan juga mempunyai cita-cita besar yaitu mewujudkan mimpi istrinya agar Bintang, anak Topan, menjadi orang yang sukses dan terpelajar.

Saya tak mau bercerita banyak akan alur film ini. Perjalanan pahit, manis, dan kombinasi keduanya berjalan begitu indah dalam perjalanan hidup Topan. Ketegarannya dan ketabahanya menggambarkan ayah yang tidak biasa, namun ayah yang luar biasa. Tak terasa semua terus mengalir sampai cerita indah mengakhiri kisah mereka. 

Jadi teringat ayah di rumah. Bekerja sekuat tenaga untuk kita anaknya. Lelah tubuh, jiwa sungguh tak nampak dihadapan kita. Mereka bekerja dengan hati. Semua mereka jalani untuk kebahagian kita. Senyum kita ketika dia pulang, sudah menjadi obat yang sangat ampuh untuk menghilangkan semua penat. Sungguh aku bangga padamu ayah.

Maafkan anakmu ini yang terkadang sering membangkan, jarang mendengar nasihat, dan bahkan sering berkata tidak pantas. Doakan kami agar menjadi anak yang dapat membahagiakanmu. Membahagiakan dunia dan akhiratmu. Iringi setiap langkah kami dengan lembutnya doamu. Sekali lagi maafkan kami dan doakan kami, wahai ayahku. 

Monday, September 29, 2014

Kesan di Suatu Malam

"Malam yang indah, tapi sayang...."
Malam ini yang entah tanggal berapa. Juga rasanya tak terlalu penting, hanya semakin mengingatkan akan jadwal pengerjaan skripsi yang kini juga masih dalam proses pengerjaan. Udara cukup dingin, cukup membuat badan sedikit bergetar, semakin bergetar tubuh ini ketika dihentakkan musik yang berasal dari sound system yang mengiringi beberapa penari di acara Jogja street dance.
                
Acara Jogja street dance adalah suatu pagelaran berbagai jenis tarian yang berasal dari beberapa negara. Tarian pada malam itu mempertunjukan tarian tradisional. Kebetulan pada malam itu hanya mempertunjukan tarian dari negara Indonesia dan Australia. Acara ini memang acara rangkain yang digelar selama tiga hari berturut-turut.
                 
Riuh suara penonton pun semakin ramai ketika penari pertama masih ke panggung. Tarian yang pertama ini berasal dari daerah bekasi, entah namanya apa saya lupa, karena dirasa kurang penting untuk diingat. Tarian yang di sajikan oleh beberapa wanita dan beberapa laki-laki, tampak dengan lincahnya berlenggak-lenggok kesana kemari. Mereka menampilkan kepiawaiyannya dalam mengolah seni gerak tubuh. Semakin menarik tarian tersebut karena disertai tubuh molek yang tak terbalut pakaian seutuhnya.
                
Tarian selanjutnya ditampilkan oleh seorang wanita kebangsaan Jepang. Apa nama tariannya dan menggambarkan makna apa tarian itu? Sama sekali aku tak ingin tau. Saat tarian jepang ini berlangsung, riuhnya suara penonton tak lagi seramai saat tarian pertama. Mungkin ini disebabkan musik pada tarian jepang ini juga tak seheboh tarian yang berasal dari Bekasi. Semua tampak lebih tenang, tarian pun hanya sekedar gerakan tak jelas. Bergerak kesana kemari mengelilingi panggung yang ukurannya tak seluas lapangan bulutangkis. Entah mengapa saat menonton tarian ini, rasa gelisah tak seperti yang pertama, mungkin karena tubuh penari yang lebih terbalut pakaian. Walaupun muka masih terbuka. Ya wajarlah, penari itu orang Jepang yang entah apa agamnya, aku pun tak tau.
                
Tarian kedua dan ketiga dilakukan oleh orang yang sama. Seorang perempuan, berparas India namun dia berasal dari Australia. Perempuan tersebut menampilkan tarian bernuasa India. Tarian yang mengkombinasikan antara permain mata, keluwesan tangan, dan hentakan kaki. Aku memang bukan seorang pengamatan tarian, jadi wajar selama berjalannya acara tersebut, sedikit pun aku tak paham akan maknanya. Hanya menonton saja, bahkan saya lebih tertarik mengamati polah penonton yang sungguh menggambarkan keadaan remaja Indonesia saat ini.
                 
Datanglah waktunya pementasan tarian yang terakhir. Tarian yang kembali ditampilkan oleh orang indonesia, dengan pakaian yang lebih terbuka, yang hanya tertutupi mulai dari atas dada sampai di atas mata kaki. Baju yang dikenakan juga tak kalah ketat dibandingkan balutan selendang pada bayi, yang berusaha agar tubuhnya tak bengkok karena pertumbuhan yang tak teratur. Motifnya memang pakaian tradisional, namun tetap saja di mata ini penilaian tidak akan berubah.
                 
Selama berjalannya acara, badan ingin sekali pergi. Meninggalkan tempat itu dan mencari tempat yang dapat menenangkan tubuh. Kala itu perasaan sungguh gelisah, entah mengapa aku bisa sampai tempat ini? Tempat yang menampilkan kemolekan wanita, dan semua menonton entah dengan pandangan apa? Pada malam itu pikiran ku terus melayang, memikirkan sesuatu yang sepertinya juga bukan urusanku. Mengapa banyak wanita dengan mudahnya membuka aurat mereka. Aku memang bukan pria yang sempurna, masih banyak kesalahan dalam diri ini. Namun aku selalu berdoa kepada Allah, semoga aku diberikan jodoh yang sholihah. Setia menjaga setiap lekuk tubuhnya hanya untuk suami tercinta. Tak mengobralnya kesana kemari, mencari pandangan lelaki lain.
                 
Apa memang sudah begini keadaan dunia? Sepertinya memang begitu. Ketika wanita tak lagi menjaga kemuliaanya. Wanita bersuami dan wanita berpacaran sekarang sudah kabur dan sangat sulit dibedakan. Mereka dengan bangganya memamerkan kemesraan yang belum syah ikatannya. Berbonceng kesana kemari, merangkul dengan eratnya. Ah buat iri saja. Kami memang lelaki jomblo, yang setia menjaga kehormatan sampai akhirnya menemukan cinta pertama sekaligus cinta terakhir. Kami lelaki yang akan menguatkan mental untuk menemui orang tua sang bidadari. Bidadari yang akan menjadi tambatan hati. In sya Allah kebahagian buat kamu penjaga kehormatan dari dunia sampai akhirat.


Thursday, May 22, 2014

Masa yang Tak Mau Mengerti

Waktu tak terasa terus berlalu, meninggal kita yang tak sadar bahwa waktu pasti berlalu. Waktu terkadang hanya dijadikan tanda perpindahan peristiwa. Dulu kita tertawa dan sekarang kita menangis.

Hanya kenangan yang tersisa, mengenang kembali hanya akan membuat kita menyesali akan hari itu, mengapa menyesal? Menyesal, karena semua tak disikapi sebagaimana mestinya. Ego sering kali lebih dominan di hati ini, semua dicari hanya karena pandangan manusia.
         
Namun kini, hati ini sedikit sadar, sadar bahwa waktu sudah berlalu dan yang tersisa hanya renungan. Renungan yang senantiasa menjadi pelajaran.

Mengapa hati ini terasa terasingkan, semua seakan menjauh, begitu juga hati ini, mengapa masih sibuk dengan bunga-bunga dunia. Seharusnya hati ini semakin matang, matang karena tempaan dunia.

Aku berharap semoga hati ini semakin kuat. Terus mencari arti hidup yang sebenarnya. Tak terbuai manisnya buah bibir. Semoga hati ini senantiasa kuat, kuat untuk mencari akhir yang sebenarnya. Aku akan terus berdoa, semoga selalu diberi bimbingan oleh Nya.


Thursday, April 17, 2014

Tauladan, Kami Rindu…

Aku rindu
Rindu pada mu wahai suri tauladan
Mengingatmu sama saja dengan kesejukan
Mengingatmu, maka akan semakin besar kerinduan

Tak pernah ku melihatmu
Namun sejuknya cahaya tauladan telah sampai pada kami
Kau berjuang karna cintamu pada kami, umatmu
Tapi kami sebaliknya seringkali melupakanmu

Jasa mu terlalu besar
Kau berjuang tak kenal lelah
Kau berjuang tak kenal mengeluh
Kami rindu, sungguh kami rindu

Kami yang kini nista, terus berjuang akan syafaatmu
Merindukan bertemu dengan mu
Meniti sedikit demi sedikit untuk memperoleh keridoan Nya
Keridoan yang mempertemukan  kami dengan mu


Pemimpin

Sore tadi, selesai rapat KKN, ketika adzan magrib berkumandang. Kami segenap tim KKN yang mempunyai mimpi ke Indonesia belahan timur sana pun membubarkan diri. Melangkahkan kaki, memenuhi panggilan Ilahi, melaksanakan kewajiban sebagai seorang mukmin yang rindu akan kenikmatan akhirat.

Tempat yang terpilih untuk kami sholat adalah masjid kecil yang berada di belakang perpustakaan UGM, yang secara ukuran malah mengalahkan ukuran mushola tersebut. kecil nya mushola tersebut in sya Allah tak mengurangi kekhidmatan ibadah kami. Namun suasana agak berbeda, tak seperti biasanya. Ku lihat banyak tentara dan polisi hilir mudik, baik yang menjalankan shalat maupun yang hanya duduk di sekitar mushola. Ada apa gerangan?

Dengar punya dengar, RI 2 akan kunjungan ke UGM. Memang sudah bukan barang yang aneh lagi bila beberapa tokoh penting bangsa ini melakukan kunjungan ke UGM, mengingat UGM adalah kampus yang cukup besar di negeri ini dan banyak tokoh negeri ini yang merupakan lulusannya. Tetap yang menjadi pertanyaan apakah harus seperti ini, seorang pemimpin bangsa di kawal, apakah hal ini tak akan membuat jarak antara rakyat dan pemimpin semakin jauh. Apalagi orang kelas bawah yang biasanya secara penampilan dan gaya hisup sudah beda jauh dengan pemimpinnya pada saat ini.

Sedikit masukkan dalam hati yang terdalam, alangkah baiknya bila pemimpin sederhana, dalam kegiatan apapun, sehingga membuat rakyat yang ingin menyapa tak segan, dan kedekatan antara rakyat dan pemimpinnya terus terjaga dengan baik. Walaupun juga tak dapat dipungkiri, bahwa keamanan seorang pemimpin juga perlu dijaga. Apabila itu bandingannya, marilah kita telisik bagaimana Rasulullah memimpin, hidupnya sederhana, kepada siapa saja Beliau menyapa, bahkan kepada anak kecil, dan juga mengingat bahwa musuh Rasulullah pada saat itu juga tak kalah kejamnya. Tapi beliau dalam setiap kegiatannya tetap sederhana, dan tak berlebihan. Maka tak hayal kalau masyarakat pada saat itu sangat dekat dengan Rasulullah SAW.

Saya menlulis ini, bukan berarti saya sudah bagus dan siap dalam memimpin. Namun paling tidak ini adalah kicauan seorang rakyat, yang sangat ingin dekat dengan pemimpinnya. Sehingga tak canggung mencurahkan isi hati kepada pemimpin tersebut. Positifnya lagi ini akan menerangi jalus komunikasi sehingga transparasi dalam menjalankan pemerintahan bangsa ini pun dapat terjaga. 

Semangat Menuju Surga

Siang ini ku masih duduk, mencoba menyelesaikan tantangan yang sedang aku hadapi. Tapi rasanya butuh rehat sembari membuat catatan ini. Sedikit merenung, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat dan pembelajaran bagi kita semua. Di mulai dari terbitnya matahari, ku bersegera menghadap yang Maha Kuasa, walau jiwa ini terkadang masih terjerat dengan lantunan yang melenakan. Tapi ku segera bangkit meninggalkan segala bisikan hati yang mengajak hanya pada dunia.

Waktu pun bergulir, waktunya Aku dan beberapa teman, yang senantiasa mencari ilmu untuk menghadiri kajian. Kebetulan yang mengisi waktu itu adalah Ustad Siswo. Beliau menerangkan kita akan hakikat dunia. Diawali dengan pembahasan terkait pemilu kemarin, dimana perbandingan antara yang mendaftar caleg dan yang diterima cukup besar. Besarnya caleg yang tidak diterima kemungkinan akan mengulangi fenomena yang terjadi pada Pemilu tahun lalu, yaitu banyak caleg yang stress karena gagal dalam kompetisi memperoleh bangku jabatan di legislatif sana.

Pembahasan pun terus berlanjut, beliau menyampaikan perihal kenapa banyak para calon caleg yang stress, itu semua disebabkan karena mereka saling sibuk berebut kekuasaan. Kekuasaan itu pun nantinya apabila mereka memperolehnya bukan untuk kebaikan tapi hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja. Beliau pun menggolonggakan orang yang mencari amanah. Orang yang mencari amanah untuk ketamakan pribadi dan kaumnya itulah yang salah, sedangkan yang mencari amanah untuk kepentingan agama maka itulah yang dibolehkan.


Beliau juga menyampaikan bahwa banyak fenomena saat ini yang menggambarkan terkait cintanya seseorang akan dunia yang berlebihan. Tidak hanya di kaum awam, bahkan sampai pada para ustad yang senantiasa berdakwah ke sana ke mari. Contoh caleg sudah saya paparkan di atas, sekarang contoh para Ustad. Pertama, sekarang kita bisa lihat banyak diadakannya shalawatan, yang salah bukan terkait salawatannya, tetapi ketika prosesi penyelenggaraannya didapati menggunakan dana yang seharusnya banyak manfaatnya ketika tidak hanya digunakan untuk shalawatan. Terkadang pada proses shalawatan tersebut sampai larut malah. Selain itu dari pihak ustadnya biasanya memasang tariff, yang lumayan besar. Baru beberapa waktu juga ada Ustad yang melakukan pengobatan alternatif, dimana dalam proses pengobatan tersebut, Ustad tersebut juga memasang tarif yang cukup besar. Beliau menyampaikan hal inilah yang justru akan menjelekkan Islam, dimana Ustad-Ustad itu sekarang berbondong-bondong mengejar dunia dan akhirat mereka tinggalkan.

Beliau juga menyampaikan, bahwa Rasulullah pernah berpesan pada Thalhah, yang lebih kurang isi hadinya seperti ini, “ Wahai Thalhal, apakah yang sedang kamu makan? Tanya Rasul, “daging dan susu wahai Rasul,” jawab Thalhah. “Tahukah Kau nantinya itu akan menjadi apa?” Rasul menanyakan kembali. Jadi kotoran wahai Rasul. Demikianlah dunia itu ibarat kotoran tersebut sama sekali tidak ada nilainya bila dibandingkan dengan akhirat.

Beliau juga menyampaikan bahwa setiap sesuatu yang kita nikmati di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya, mulai dari makanan yang kita makan sampai kekayaan yang kita peroleh. Maka beruntunglah orang yang miskin ketika hidup di dunia sehingga nanti dia ketika di akhirat dia akan lebih cepat hisapnya dibandingkan dengan orang yang mendapatkan kekayaan yang banyak ketika didunia.

Tambahnya lagi, kecintaan akan akhirat sudah dicontohkan oleh para sahabat, dimana mereka saling berlomba untuk syahid ketika berjuang dengan Rasul. Sehingga tidak aneh bahwa seorang muslim dapat mengalahkan sepuluh orang kafir. Mereka menerjang bagaikan singa yang mencari akhirat. Sedangkan lawan mereka berperang untuk bertahan hidup dan kembali untuk menemui istri dan anak mereka. Mungkin ini hasil review, kajian yang saya peroleh. Semoga bermanfaat, terutama bagi saya dan saudara sekalian. Semoga hati ini senantiasa dipenuhi dengan kerinduan syahid menuju keridoan Allah, sehingga hidup kita selalu senang dan optimas, tidak resah dan gundah gulana, karena akhirat itu pasti adanya.

Tuesday, April 8, 2014

Rindu

             
Rindu, sempat ku merasakan rindu kepada engkau wahai sahabat. Kini tak setiap saat kita berjalan bersama. Kita semua disibukkan dengan apa yang ada di hadapan kita. Terkadang rinduku kepada mu membuat ku iri, ketika kau lebih memilih tuk bersama mereka. Serasa ku sendiri dan kau tak memperhatikan. Semua kan ku jalani sebagaimana mestinya, ku kan lakukan yang terbaik yang ku bisa walau tanpa kau.

Ku tau, rindu kepada dunia adalah sebuah kepalsuan. Ku juga tau, bahwa kau juga adalah bagian dari dunia itu. Maka apabila ku merindukanmu dari sisi dunia maka itu adalah kesia-siaan yang nyata, akan tetapi bila ku merindukanmu karena Nya maka itu adalah sesuatu yang abadi. Dunia itulah yang seringkali melenakanku.

Semua terasa akan meninggalkan diri ini. Tak mengapa, pasti Dia selalu mengawasi ku. Selalu menyayangi dan memberiku yang terbaik. Terasa semua mengacuhkan ku. Tak mengapa, pasti Dia selalu menunjukkan ku jalan yang terbaik. Tapi mengapa hati ini selalu terasa kering, mengapa hati ini selalu terasa sepi. Padahal aku yakin.

Akhirnya ku tau jawabannya, keyakinan ini hanya di bibir, tak sampai ke dalam dada. Semua di jalankan hanya berdasarkan rutinitas, sedangkan hati tak ikut bertaut. Semuanya dilakukan hanya menginginkan pandangan makhluk, padahal makhluk itu juga berharap kepada Nya. Maka tak pantaslah bila rindu ini ditujukan ke makhluk, semua harus tertuju padanya. Walaupun kita mencintai makhluk, niatkanlah itu untuk memperoleh cintaNya. Ketika kita merindukan makhluk, niatkanlah untuk memperoleh rinduNya. 

Tuesday, November 19, 2013

Semoga Tak Sebatas Toga



Siang tadi ku lihat beberapa saudara telah memakai pakaian sakral. Pakaiannya berwarna hitam dibalut kalung berwarna kuning dan tak lupa simbol ugm yang melekat bak sinar matahari, cemerlang lagi menyenangkan ketika dilihat. Bagaimana hati tak merasa senang, setelah sekian lama perjuangan dikampus tercinta, baik itu belajar, mengerjakan laporan, dan menambah pengalaman lain yang tak bisa didapatkan apabila hanya kuliah dan pulang saja yaitu bertemu sahabat seperjuangan.


Kesenangan kian tampak di wajah mereka sebari didampingi keluarga dan bahkan ada calon keluarga J. Sahabat menyambut dengan senang, membawa bunga, dan meminta untuk foto bersama, dan mungkin setelah itu juga kegembiraan akan dishare di sosmed sehingga semua akan ikut mersakannya. Rasa senang tertular ke seluruh penjuru fakultas bahkan yang skripsinya belum selesai juga ikut merasa senang, sementara mereka buang jauh skripsi tersebut dan nanti mereka pikirkan kembali.

Setiap acara dilalui dan tak ketinggalan semua santapan juga dicoba, sangat sayang untuk dilewatkan, kapan lagi bisa makan bersama, dikampus tercinta ini. Tak ada salahya kan? karena mungkin besok kehidupan akan lebih menatang. Setiap makna sampai di hati semoga apa yang diperoleh ini tak hanya sebatas toga yang melekat pada tubuh yang mungkin nanti tinggal kenangan yang tergantung dalam lemari yang semakain lama gerang hitamnya akan semakin pudar dan cerah kuningnya kan semakain layu.

Ya mungkin “tak sebatas toga” merupakan kalimat yang tepat merefleksikan harapan bangsa akan para sarjana yang tercetak setiap tahun. Ilmu yang mereka bawa lebih diharapkan bangsa daripada toga yang diperoleh. Perubahan yang tidak hanya atas nama individu namun kemaslahatan bersama. Mengubah yang tadinya rusak menjadi bagus. Merubah yang tadinya tidak dipercaya menjadi dipercaya. Merubah untuk menuju negara yang semakin bermoral dan berakhlak mulia.

Ini pun renungan bagi kita semua, mungkin besok ketika saya wisuda dengan didampingi keluarga dan keluarga baru J, tetap bisa memberikan yang terbaik bagi agama, bangsa, masyarakat dan keluarga. Sehingga kelulusan tidak sebatas toga namun toga yang melekat dihati yang melambangkan pengabdian. Itulah yang lebih penting. Semangat mengembara Wisudawan semoga perjalanan mu berkah dan jangan lupa solat, ngaji, karena hidup itu hanya semantara. Sarjana hanya gelar kehidupan toh pada akhirnya gelar kita alm (almarhum).