Showing posts with label Bergerak. Show all posts
Showing posts with label Bergerak. Show all posts

Tuesday, November 4, 2014

Hari ini…

"Mungkin tak terbenam semuanya..."
Hari ini ku beranikan diri
Membatasi lisan yang dulu tak berhenti bersahut
Mewakili hati yang terlena rindu
Rasa hati yang sampai kini tak mau pergi

Hari ini kuberanikan diri
Tak sering mengingat wajah yang memeras hati
Tapi apakah sanggup, coba lihat saja nanti
Apakah raga ini kuat atau sebaiknya akan terbuai kembali

Kesan dan kenangan yang pernah terukir
Sungguh hati ini menjadikannya diluar akal
Semua yang tak biasa menjadi semakin tak biasa
Rindu bagaikan candu yang membuat indah seluruhnya

Mungkin ku berlebihan
Berlebihan dalam menguak perasaan
Entah hati yang di sana merindu atau tidak
Sungguh aku sangat peduli

Nyanyian alamnya mungkin menambah kadar candu
Semakin menghiasi wajah yang terus merona
Senyuman manis gadis yang dicinta
Membuat dunia bak laksana surga

Dan kini ku sendiri, jauh, jauh, dan jauh…
Tak melihat mu kembali, mungkin buah kekhawatiran ku
Sungguh ku merindu sangat
Padamu yang kini berada jauh

Friday, May 16, 2014

Bangsa Indonesia

Nasibmu dulu dan kini, selalu saja kau menjadi rebutan hati yang tamak. Menginginkan segala yang ada pada dirimu, yang indah lagi menawan. Semua sibuk mengeruk isi perut mu. Rakyatmu pun tergoda, apalagi bangsa lain yang miskin, tak hanya miskin kekayaan alamnya tapi juga moralnya.

Berjalannya waktu semakin membuatmu menderita, semua dikelola tanpa rencana, dan kini akhirnya semua merasakan yang ada, “bencana”. Masa yang lalu, ketika kau masih hijau menyejukkan, kau digunduli hanya karena kekayaan. Hutan mu digunduli hanya sekedar untuk tanaman perdagangan, pohon mu diganti tidak hanya dengan tebu tapi juga dengan kopi dan teh. Semua dilakukan demi mengumpulkan modal membunuh jiwa-jiwa yang tenang.

Tak hanya dirimu wahai bangsa ku, rakyat yang sejatinya hanya ingin hidup sejahtera, mereka dibantai, mereka dipaksa, mereka diusir, sehinga tak tersisa ketenangan dalam hati. Leher mereka dijerat oleh kerasnya pajak, rakyat yang menanam tapi mereka yang menikmati, mereka siapa? Mereka itu orang-orang yang mencari kesenangan dunia atas nama kolonialisme.

Waktu terus berjalan, mereka menikmati seluruh penderitaan. Sampailah kita pada perjuangan, yang memberikan beribu harapan. Penjajah asli pergi namun berganti penjajah dari saudara sendiri. Penjajah dari kalangan sendiri ini tak kalah kejamnya, mereka menyedot harta mu wahai bangsa ku bukan untuk kepentingan bangsa lain, tapi untuk kepentingan perut mereka dan keluarganya, rakyat yang dipimpin dibiarkan lapar tanpa apa-apa dalam rongga perutnya.

Kini bangsaku kau masing menanggung dosa lama, dosa yang diteruskan oleh rakyat mu sendiri. Mereka tak mau belajar dari pengalaman, tapi mereka mengulang dosa lama. Semoga kau diberikan kesabaran wahai bangsanku, kau harus bisa bertahan, bertahan memberikan yang terbaik bagi kami rakyatmu, jangan kau dendam kepada kami, tetaplah menjadi perantara rejeki dari Yang Maha Kuasa kepada kami.


Saturday, April 26, 2014

Wahai Rachmad

# Waktu hanya sebentar Rachmad, masihkah kau siakan waktu untuk sesuatu yang tak berguna?

# Umur mu juga terus berjalan, tak malukah kau dengan sikap yang belum juga bijak?

# Harapan orang tua mu begitu besar, apakah kau tak enyuh melihat perjuangan mereka?

# Rachmad, sekali lagi aku memberitahu mu, jangan kau menyesal nantinya, menyesal ketika tak ada         kesempatan untuk mengulah jarum jam

# Tak inginkah kau menjadi seseorang yang sukses, berguna untuk sesame, dan yang paling penting untuk   agama ini?

# Tak inginkah kau menikmati masa tua mu dengan berbagai kebermanfaatan?

# Bangunlah kau dari terlenanya angan yang sia-sia!

# Penuhilah dada mu dengan ilmu! Penuhilah dada mu dengan hikmah!

# Hantamlah kehidupan ini! jangan sampai kau yang dihantam

# Manfaatkanlah Rachmad! Manfaatkanlah waktu yang terus berlari ini yang sama sekali tak menengok mu kebelakang

# Optimislah dalam menjalani hidup, pandanglah ke depan, tak mengapa melihat ke belakang, namun sebentar saja untuk menjadi pertimbanganmu

# Semangat!

Friday, April 25, 2014

Neng Skripsi


Sudah beberapa bulan ku lalui, tak terasa sudah bulan-bulan akhir masa kualiah di kampus ini. Kampus yang awalnya tak ada mimpi sedikit pun bisa bersekolah disini. Tapi Allah merencanakan lain dan aku yakin ini yang terbaik. Lika-liku kuliah sudah sebagian besar aku lewati, perkara tugas, laporan dan praktikum ku jalani dengan senyum maupun dengan sedikit mengkerutkan dahi.  Tapi semua terasa nikmat, karena ku tau tak semua orang bisa mengalaminya.

Sekarang, tinggal beberapa langkah lagi aku akan mengalami fase selanjutnya. Fase itu akan terwujud setelah ku dapat menyelesaikan suatu misi, yang menjadi sahabat setia mahasiswa tingkat akhir. Sebut saja misi itu adalah penaklukan hati neng skripsi. Mahasiswa selalu mencari suasana indah bersama dia, bersama ketika hati senang, gelisah bila berpisah dengannya walaupun hanya sebentar, dan dia juga dapat mengingatkan kita akan perjuangan orang tua. Yang intinya memotivasi kita untuk memutuskan hubungan dengan neng skripsi ini. Begitu halnya dengan ku yang sekarang sedang berusaha memanggilnya walaupun nanti jua akan kuputuskan dia, hehe.

Sebelum bertemu neng skripsi, ku harus bertemu dulu dengan bang penelitian. Erat tidaknya hubungan kita dengan neng skripsi tergantung proses pencomblangan oleh bang penelitian ini. tak heran kita harus membuat proposal resmi supaya dia mau membantu kita. Menjelaskan maksud kita kepadanya, menjabarkan alur prosesnya, sampai akhirnya dia mau bantu kita. Tahap ku masih disini, mencoba mengetahui maunya bang penelitian, dengan menyodorkan proposal yang ku buat dengan penuh rasa cinta di dalamnya.

Tak jenuh ku menanyakan ke semua orang, formula apa sebenarnya yang jitu dalam menyusun proposal ini, tak lain untuk menarik perhatian bang penelitian yang terkadang tak cukup dirayu dengan senyuman. Harapan mugkin tak terlalu muluk, bisa bertemunya ku dengan neng skripsi sudah menjadi sesuatu yang sangat berkesan ditambah lagi dengan perjalanan dengannya yang dipenuhi dengan rasa cinta diantara kita sampai sidang skripsi memanggil. 

Perpisahan yang terjadi, tak akan membuat ku untuk melupakanmu wahai neng skripsi. kau akan selalu ku kenang, jasa mu akan selalu ku ingat, senyum indah mu akan selalu menjadi bagian indah dalam hidup ku. Ku kan balas cinta yang telah kau berikan dengan mencintai saudaramu, mba tesis wkwkwk.

Saturday, April 12, 2014

Ironi Sistem Negeri Ini

Sudah sekitar tiga hari berlalu, sejak jutaan kertas suara berseteru dengan alat pencoblos. Rakyat Indonesia telah menerima haknya, memilih wakil yang katanya mewakili aspirasi rakyat. Rakyat Indonesia yang banyak itu pasti memilih pemimpin mereka dengan banyak motif, ada yang memang percaya akan pemimpin yang dipilih, ada yang memilih karena ikut-ikutan, dan ada yang memilih karena mendapatkan beberapa lembar uang. Hal yang juga ramai dibahas adalah masih banyaknya kaum putih “Golput”. Kaum golput ini juga banyak alasan yang melatarbelakanginya seperti, bosannya mereka dengan keadaan pemimpin yang menurut mereka sudah bisa ditebak keadaan mereka ketika sudah menempati kursi kekuasaan, ada yang tidak memilih karena sudah tidak ada simpati lagi akan proses pemilihan, dan yang paling parah lagi adalah golputnya mereka karena tidak mendapatkan uang dari para caleg.

Ironi memang, pemilihan pemimpin yang penuh dengan kedustaan, yang berbicara bukan lagi hati yang suci namun hati yang sudah disumpal dengan uang. Tersumpalnya hati membuat darah tak mengalir dan busuklah seluruh tubuh. Perebutan kekuasaan yang penuh curiga, apapun dilakukan, termasuk menjual semua aset keluarga untuk kepentingan kampanye setiap caleg. Baru-baru ini juga beredar berita antara dua pendukung partai salih bertikai, menusuk satu sama lain, membuat warga cemas. Apakah seperti ini kedewasaan yang mereka miliki, dia pikir kita ini bayi, tak tau apa yang terjadi. Sungguh banyak cacat sistem pemilihan ini, banyak yang salah dan sulit diutarakan bila hanya dalam beberapa lembar tulisan saja.

Tadi dari aktornya, sekarang beralih ke proses berjalanya pemilu. Berapa banyak uang yang digunakan untuk pemilu? Tentu banyak sekali, hitung saja kertasnya, hitung saja tintanya, hitung saja petugas yang dibayar untuk berlangsungnya pemilu tersebut, kau masih bilang itu sedikit? Coba uang itu digunakan untuk biaya sekolah anak yang tidak mampu, menangani para tuna wisma, menurut padangan awam saya in sya Allah akan lebih baik adanya. Belum lagi adanya politic money, yang menggelontorkan uang hanya untuk kekuasaan semata, yang akhirnya juga membuat kursi kepemimpinan dikuasai para beradal, tapi anehnya masyarakat masih saja mau memilih orang seperti itu. Apakah kini besarnya hati sudah kalah dengan laparnya perut? Sehingga mereka rela dengan uang yang tak seberapa membuat mereka merana 5 tahun lamanya, mungkin bisa saja lebih. Kelebihan itu dikarenakan pemimpin yang sudah haus kekuasaan pasti akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kaumnya sendiri.

Pemilu, awal sudah terjadi masalah, tengahnya sudah terjadi dusta, dan ternyata akhirnya juga penuh dengan manisnya tipu daya. Perhitungan satu partai membengkak, terjadi jual beli suara, partai yang satu merasa suaranya terkurangi, dan lain sebagainya. Kepuasan yang tidak berujung akhirnya diselesaikan dengan cara menjatuhkan satu sama lain. Pusing kami dibuatnya. Belum selesai masalah satu muncul masalah yang lain. Tak usahlah pusing, ini memang sudah sistemnya yang salah, suara orang tak sekolah kok disamakan dengan yang sekolah, ya salah kaprah. Suara orang tertipu kok sama dengan orang yang paham, ya hancur leburlah.

Indonesia ini mayoritas Islam mengapa tak pakai cara Islam, semua akan indah bila itu terlaksana. Pemimpin dipilih dengan cara yang ideal, dipilih dengan kapasitas yang baik, tidak hanya intelektual namun juga kepahaman agamanya. Pasti rahmat Allah kan turun untuk negeri ini. Negeri yang kaya, bahkan tongkat ditanam pun jadi tanaman. Mari kita sama-sama berdoa semoga pada pemilihan presiden nanti terpilih pemimpin yang baik agamanya, tak ingin ku lihat negeri ini hancur seperti negeri-negeri di timur tengah sana yang dipimpin oleh orang yang dengan tega membunuh rakyatnya sendiri. Semoga hati-hati ini saling berpadu, mendukung yang benar dan menolak yang penuh tipu daya.

Friday, October 18, 2013

Metamorfosis Harimau Kampus


Kampus, bisa dikatakan wahananya atau tempatnya orang belajar, tapi itu sudah umum. Kampus, bila ditanya lagi akan kata itu pasti yang terbesit di benak seseorang adalah mencari bekal keahlian untuk bekerja kelak sehingga dapat menyambung hidup, ini juga sudah biasa. Kampus, makna lain kata ini juga adalah tempat untuk menjalankan amanah yang diberikan orang tua, mewujudkan mimpinya agar anaknya kelak mapan bekerja “andaikan ia menjadi pegawai negeri, andaikan dia menjadi pengawai pemerintahan” atau pekerjaan lain yang menghasilkan dampak tetap dan bisa dipandang wah oleh tetangga. Tidak dapat dipungkiri itu sudah menjadi mindset mayoritas orang tua walupun tidak semuanya seperti itu.

Namun bagi pemuda yang liar jiwanya  dalam tanda kutip liar mencari idealisme, liar mencari jati diri, kuliah tidak memiliki makna sedangkal itu. Memang kuliah harus mendapatkan nilai bagus, memang kuliah harus rajin, pintar dan professional, tetapi tujuan utama kuliah bagi jiwa ini adalah menjadi curahan akan hausnya rasa kebermanfaatan, hausnya rasa ingin mengabdi, dan jenuhnya dengan ketidakadilan yang menghujam hati rakyat. Namun terkadang kondisi yang menuntut butuhnya penyesuaian, ada mahasiswa yang sudah bisa merealisasikan cita-cita pengabdiannya, ada yang baru timbul gejolak rasa, namun ada pula yang hatinya enggan untuk memberi kesempatan akan tumbuhnya rasa itu, yang pasti semuanya perlu dipupuk dan disiram agar yang subur semakin subur dan yang belum tumbuh untuk secepatnya menyusul yang sudah berbunga.

Ketika jiwa liar dengan idealismenya sudah menemukan suatu cemistry, keterikatan karena samanya rasa dan tujuan maka bukan hal yang aneh apabila mahasiswa ini akan terus mempertahankan idealismenya, apapun halangannya dan apapun tantangannya, mereka bukan semakin lemah dan luluh di bawah kenyataan namun akan semakin kuat dan terkadang egonya yang tinggi menguasai akalnya. Jiwa liar ini bagaikan harimau yang sangat egois akan daerah kekuasaannya, siapapun yang masuk pasti akan berhadapan dengannya. Jiwa harimau ini tidak bisa di batasi hanya dengan sebuah gertakan dan sebuah ancaman namun jiwa liar ini hanya bisa berhenti ketika nyawa berpisah dengan raganya. Hal ini yang mebuat dunia kampus berbeda dengan dunia lainnya, dunia yang tepat untuk menanamkan ideologi, tidak seperti di dunia lain di mana makhluk yang bernama idealisme dikerdilakan. Namun di dunia pemuda ini, dunia dibentuknya para harimau idealisme, mereka akan semakin kuat dan bringas ketika berkumpul dengan kawanannya.

Harimau dengan jiwa yang liar sungguh bahaya apabila berada diluar kendali, harus ada yang mengotrol dan mengatur agar idealisme berbading lurus dengan kebermanfaatan yang hendak dicapai. Pengaturan yang terbaik adalah dari Tuhannya manusia, pencipta manusia, yang selalu membolak balikkan hati manusia di antara dua jariNya. Sungguh hati manusi itu selalu di perebutkan oleh dua tentara, tentara yang selalu mengajak kepada kebaikan dan yang mengajak kepada kerusakan. Jangan dibiarkan para harimau liar ini terjerumus ke ideologi yang salah dan bertentangan dengan nilai agama.

Islam inilah sistem yang tepat untuk mengatur harimau itu, mengajaknya untuk meluruskan kepemahamannya akan idealisme, meluruskan kepemahamannya akan kebermanfaatan, kebermanfaatan yang tidak hanya bersifat pribadi, bukan bersifat kelompok, bukan bersifat golongan, dan bukan bersifat komunitas, namun semata mata untuk kebaikan seluruh alam. Sehingga harimau liar ini tidak menerjang kesana kemari dengan idealismenya yang buta, tetapi menjadi sang harimau tauhid yang siap berjuang, yang siap menjaga, yang siap menjadi contoh, yang siap menjadi rahmatan lil alamin bagi seluruh semesta. Sisi ini akan menjadi tonggak penting yang perlu ditancapkan sehingga akan tertanam pentingnya menjaga dan membina harimau-harimau berjiwa liar di dunia kampus agar kelak siap melompat kealam rimba yang penuh tantangan dan godaan sehingga tidak menjadi objek buruan yang senantiasa dikuliti akalnya dan dikuliti jiwanya yang masih miskin akan kepemahamannya agama Allah yang rahmatan lil alamin bagi seluru alam semesta. Allahu akbar.