Showing posts with label Kata hati. Show all posts
Showing posts with label Kata hati. Show all posts

Monday, November 9, 2015

Duduk Sendiri

Lembap terasa udara sore ini
Menguap dan merasuk hingga relung hati
Teringat kembali masa dikala matahari sedikit tertutupi
Di sana kami menari dalam bayang-bayang sejuknya mentari

Kini ku terduduk sendiri
Melihat krumunan lebah terbang hilir mudik
Entah apa yang dia cari
Tapi setiap hinggapnya selalu membawa berarti

Kembali ingin ku pergi
Pergi dan untuk kembali
Karena ku tahu, jangan terlalu lama…
Agar rindu berbunga dan mengendap, erat…

Pasti nanti ku pergi
Namun kini biarkan ku duduk sendiri
Ku ingin berbenah dulu,  ada yang perlu ku perbaiki
Biar nanti tak lekang, kan ku ukir perlahan dan dengan segenap perasaan….


Wednesday, September 2, 2015

Peraduan Ku

Banyak rasa tercipta disana
Baik sedih maupun suka
Namun kini hanya bisa tertawa
Ternyata semua indah pada akhirnya

Terkadang tersenyum sendiri
Memandang langit yang berselimut sepi
Ternyata aku tak sendiri
Ada mereka yang menemani

Terkadang menangis sendiri
Merasa hidup yang penuh narasi
Sampai tak kuat menghadapi
Namun mereka tegar dan menopangku dari sisi

Jauh aku mungkin telah berjalan
Atau mungkin hanya perasaan
Dan ternyata aku masih di pelataran
Malambaikan tangan, dan berpura-pura air mata berguguran

Oh ternyata tidak, aku baru setengah jalan
Tengah jalan yang banyak rayuan
Tengah jalan yang terkadang memeras perasaan
Tengah jalan yang mencegah ntuk kembali ke peraduan

Sepertinya memang harus terus maju
Maju sambil memikirkan yang dibelakang
Tak perduli hati beradu
Karena yang ku pikirkan adalah masa depan

Bukan aku tak peduli
Apalagi mencoba untuk lari
Aku hanyalah pria yang mencoba terus berdiri
Walau dalam langkah terbanyang adanya perih

Lebih baik aku beristirahat dulu
Memikirkan yang di belakang ataupun yang di hadapanku
Merenungi semua jalan ceritaku
Agar semua indah dan layak dikenang selalu 

Tuesday, August 18, 2015

Bayangan

Bisakah Kau dengar suaranya Kawan…
Riuh bunyi ombak melambai, memanggilmu, mengajakmu mendengar indahnya lagu alam
Bisakah Kau dengar suaranya Kawan…
Gesekan batang dan daun yang saling beradu, meminta tuk dihampiri
Bisakah Kau dengan suaranya kawan…
Kumpulan burung bersiul, seakan tak ada nada sumbang dalam setiap tangga nada
Bisakah kau dengar suaranya Kawan…
Sentak langkah kaki berlari, larinya anak bersenda gurau dengan alam


Terlalu banyak gambaran, terlalu banyak nada, terlalu banyak semangat yang terbawa
Sentuhan alam yang sungguh melenakan
Ingin dipeluk, dicium, diraba setiap lekuk indah rupanya
Oooh… kapan aku bisa?

Negeri ku ini memang pantas dicintai
Bahkan bagi mereka yang tak mau mati disini
Namun rasa nikmat menuntutnya tuk menyinggahkan diri
Oooh… Kapan kau pergi?

Beginikan ketika hidup diserang rindu
Tak penting dengan kapan pertemuan beradu
Hanya ingin Satu
Bertemu…!!! Dan kita menyatu…

Kawan…
Sudahkan kau terbayang? akan dunia yang mirip kayangan
Kawan…
Sudahkan Kau terbayang? nampaknya belum
Kawan…
Itu negeriku, rumahku, yang kesannya melebihi berjuta bayangan

Sunday, April 26, 2015

Tanda-tanda

Ku tulis rasa hati yang terus menggerutu
Kelam tertutupi dosa masa lalu
Tak mengerti dan tak dijalani
Padahal petunjuk telah datang silih berganti

Mungkin sudah kesekian kali
Wajah terjungkal mengenai kotoran duniawi
Rasa lapang sedemikian pergi dan sulit dibujuk walau sekedar ntuk kembali
Dan akhirnya ku harus meniti, menghapus dosa, dan memulai dari titik awal lagi

Mungkin janji sudah terucap untuk kesekian kali
Namun tubuh yang lain tak kuasa, dan akhirnya memutuskan ntuk mengingkari
Akhirnya kekecewaan dan penyesalan pun menghampiri
Badan lunglai, hanya bisa terpaku, sambil menyalahi diri sendiri

Lalu hati bertanya-tanya….
Kamu ini maunya apa?
Terang dan gelap sudah jelas apa adanya
Kini hanya ada curiga dan semakin tak percaya

Ya Allah, kasih cinta-Mu bertebaran dimana-mana
Petunjuk Mu juga tak segan untuk menyapa
Maafkan hamba Mu ini yang kesekian kali berbuat nista
Semua salah hamba Mu ini, salah karena hati menghitam sehingga tak mampu membaca tanda-tanda

Monday, March 16, 2015

Setiap tikungan

Setiap tikungan selalu ada kejutan
Kejutan perasaan dan hasil sebuah perjuangan
Dia datang tanpa perlu kau undang
Hadirnya mendadak dan akan menghujam begitu dalam

Yang kau perlukan adalah sebuah keyakinan
Bahwa dia datang dan pergi pasti karena ketentuan
Terkadang kau harus menanti bersama dengan sebuah kejemuan
Namun nanti kau kan tau hakikat sebuah kerinduan

Bisa bersabarkah dengan penantian?
Bisa bertahankah dengan godaan?
Padahal dia selalu menggoda dan meminta untuk diperjuangkan
Berbinar, berkilau, menarik kaki yang sulit dirayu walau sekedar untuk berjalan

Sepertinya memang aku harus bersabar
Meremas hati agar ego dan nafsu tidak terus berkibar
Menelusuri rasa yang kata hati bisa jadi benar
Menata jiwa sampai datangnya sebuah kabar

Tuesday, November 4, 2014

Kembali Kalah….

"Aku menyesal dan segera ku berbenah..."
Rasanya sudah sangat bulat tekad di awal
Setegar karang yang tak hanya keras namun juga menghujam
Menggetarkan setiap gelombang ombak yang tak henti untuk datang
Semua terasa siap walau untuk keseribu kalinya berperang

Namun tak disangka musuh datang dari mana saja dia mau
Tentara yang tadinya rapih, sekarang tersebar dan enggan untuk menyerbu
Musuh menyerang dan dia awali dari dalam kalbu
Merasuk dan menghancurkan tubuh hingga kini menjadi debu

Peperangan ini memang bukan yang pertama
Tentara yang dikerahkan juga mungkin tak beda adanya
Senjata dan tekad yang semakin kuat juga selalu tersedia
Namun apa daya, jika musuh terbesar adalah apa yang ada dalam raga

Harus diakui apa yang ada dalam raga ini masih lemah
Seremah pasir yang nantinya mati menjadi tanah
Dia seakan tak mau belajar dari sejarah
Dan untuk kesekian kalinya harus malu dan mengaku kalah

Sekelompok pasukan kini hanya merasa hina
Bahkan malu untuk sekedar mengangkat muka
Hanya bisa berdoa….
Sembari was-war agar tidak menanggung murka

Sunday, October 26, 2014

Mata Itu

"yang kini berada jauh..."
Mata itu yang dulu melirik dengan segala keresahan
Keresahaan yang entah apa artinya
Pening hati memikirkan apa yang sesungguhnya dirasa
Namun hati, tak perlulah kau curiga

Malam dingin, mengingat waktu saat itu
Berlenggak lenggok dengan tatapan kekhawatiran
Entah tau atau tidak?
Dan dia pun pergi memperkuat kesan

Mata itu terkadang terasa hangat
Mata itu juga terkadang terasa sangat dingin
Hati bingung entah apa yang diharapkan
Terus berjalan dan berharap hati tak menangis

Masih berharap, mata itu kan menatap
Namun beda jadinya dengan keinginan hati
Pandangan pergi dan tak saling terpaut
Maka bersabarlah wahai mataku

Udara panas membuat mata beraut merah
Semakin memerah dengan sakitnya raga
Tapi entah kenapa, mata itu datang
Menghampiri dengan dengan kawannya senyuman

Baru saja mata itu terpaut
Kini harus rela terpisahkan oleh jarak
Jarak dimana mata tak mampu lagi berperan
Yang ada hanya ratapan kerinduan

Dan kini mata itu telah berganti
Berganti dengan mata yang menyatukan hati
Jarak dan waktu kini sudah tak punya arti
Terimakasih wahai mata hati

Saturday, September 27, 2014

Separuh Hati, Sang Pembawa Pesan

"Pergilah dan sampaikan pesanku"
Pergilah kau wahai separuh hati. Tinggalkan tempat mu dan sampaikanlah pesan ku. Tak usah kau pikirkan teman mu separuh hati yang lain, biarkan dia di sini menjaga sepenuh tubuhku.

Pergilah kau wahai separuh hati. Temui dia, sepenuh hati yang lain yang kini menjadi harapan ku. Sampaikanlah semuanya dan jangan ada yang tersisa. Sampaikan rasa yang kini merasuk dalam tubuh, ketika dia berada jauh.

Pergilah kau wahai separuh hati. Sampaikan semua apa adanya, jangan kau tutup-tutupi. Apabila kau jumpai noda maka hilangkanlah, dan apabila kau jumpai cahaya maka tambahlah terangnya.

Pergilah kau wahai separuh hati. Pergilah dengan hati tulus dan jangan kau nodai. Jangan kau khawatirkan separuh hatimu yang berada di sini, biarkan ku menjaganya. Sekarang, semua yang ada dalam pikiranku masih sama dengan pesan yang ada pada dirimu. Masih sama, dan belum ada yang menggantikan.

Pergilah kau wahai separuh hati. Tubuh ini masih kuasa dengan separuh hati yang kau tinggalkan. Tak mungkin dia ku kirim dengan tujuan yang sama denganmu. Lalu siapa yang menopang diri ini, pasti mati karena ditinggalnya pergi.

Pergilah kau wahai separuh hati. Sampaikan niat itu dan bersegeralah pulang. Aku terima semua yang terjadi, dan janganlah kau merasa sedih. Karena mungkin sepenuh hati yang disana belum tentu memiliki rasa yang sama, jadi terimalah.

Pergilah kau wahai separuh hati. Apabila niat baik itu diterima dengan hati terbuka. Kau juga harus segera kembali. Bawalah sepenuh hati yang di sana, temukanlah dengan separuh hati yang kau tinggalkan di sini. Pasti dia akan terseyum dan merasa bahagia.

Pergilah kau wahai separuh hati. Kini kami siap menunggu, segala hasil yang kau bawa. Menunggu dengan senyuman. Bersegeralah pulang wahai kau separuh hati,  separuh hati sang pembawa pesan.

Wednesday, September 24, 2014

Semoga Hanya Prasangka


Semua terasa sudah gila, ketika rasa cinta tak lagi menjadi barang yang istimewa. Semua dicoba hanya sekedar bahan pamer saja. Entah aku berprasangka buruk, yang pasti itu yang kurasa saat ini.

Jangan salahkan aku, apabila ku punya rasa ini. Rasa yang kurasa juga membebani. Rasa ku bukan rasa yang biasa. Ku memilikinya karena memang ku cinta. Tanpa nafsu, melihat kekayaan, kecantikan, tapi rasa itu datang dan entah mengapa terasa memabukkan.
                 
Aku bingung, sungguh ku bingung. Coba semua ku renungi sepenuh hati. Hasilnya tetap saja sama, rasa itu masih saja ada, dan sangat sulit bagi ku melupakannya. Sekali lagi jangan salahkan ku.
                 
Jangan kau tebar cinta tanpa pertimbangan. Jangan kau jual cinta ke sembarang orang. Cinta itu bukan barang dagangan. Kau harus menjaganya dan betul-betul menjaganya. Aku sungguh takut kalau kau adalah orang yang pencoba. Mencoba sana sini, tetapi tidak dengan hati.
                
Kau harus tahu, bahwa ku menahan rasa ini karena aku khawatir akan dirimu, makanya aku menunggu. Ternyata perkiraan ini salah, ternyata kau lebih dari prasangka ku.
                 
Kini ku tetap pada prinsip ku yang pertama. Semua tetap berjalan, tanpa perlu rasa berlebihan. Kau sudah ku anggap saudara, entah berasal dari cinta atau bukan, entahlah jangan kau tanya aku.
                
Setelah ku tau semua, entah mengapa hati tetap seperti ini. Cinta masih ada, dan semuanya masih berbunga. Mungkin ku masih menyimpan harapan atau mungkin aku sudah dibutakan. Sekali lagi jangan kau tanyakan aku.
                 
Apabila ada yang berkata tidak pantas, aku tanya dimana letak tidak pantasnya? Semua ku jalani tanpa ada yang terlukai. Dengarlah aku, dengarlah hatimu. Sungguh kau mulia, jadi tolong jangan kau nodai.

Sunday, September 21, 2014

Kami pun Terpele


 
"Semoga kelak kita di pertemukan kembali di dermaga ini"
Udara yang tadinya dingin, perlahan menjadi semakin hangat
Daun yang tadinya malu bergoyang, sekarang mengikuti gerak angin berirama
Sungguh suasana saat itu berbeda sekali
Biasanya semua berjalan apa adanya, tanpa perlu menangis dan mengelus dada

Saturday, September 20, 2014

Fafanlap yang Terkenang


Kenapa kau begitu terkenang, selalu terbanyang, dan sangat susah untuk dilupakan. Apakah karena ukuranmu yang tak begitu luas? apakah karena lautmu yang nampak begitu indah? Atau karena pulau-pulaumu yang nampak begitu mempesona? Sehingga kau dapat masuk ke relung hati terdalam dan kami tidak bisa melupakan semuanya.

Ketika pagi tiba, kami duduk memandang lautmu, menghirup setiap udaramu, semuanya datang membelai tubuh kami. Terasa nikmat, sungguh terasa nikmat. Dermaga terbentang, tempat kami berjalan merenungi semuanya. Merenungi akan indahnya ciptaan yang Maha Kuasa. Memandang airnya, pulaunya, dan awannya, tak lain semakin menambang rasa kagum kami akan yang Maha pencipta.

Memandang mu terus, sungguh tak membuatku jemu. Wajah menghitam, rambut menjadi kusam, sedikit pun tak ku pikirkan. Yang kupikirkan adalah bagaimana menikmati masa-masa ini, masa-masa bersama mu, masa-masa bersama sahabat, masa-masa bersama warga Fafanlap tercinta.

Ketika siangmu tiba dan cahaya matahari semakin menghangat. Anak-anak datang  berlarian dan seakan tak menghiraukan mu. Mereka bermain seakan tak tau bahwa dunia ini terus berputar. Raut wajah mereka masih terlihat polos, tak seperti orang tuanya yang terlihat sedikit berkerut karena sudah banyak makan asam garam kehidupan. 

Matahari pun semakin menghangat, dan kami mencoba merebahkan tubuh pada tempat yang lebih teduh. Semakin teduh ketika tubuh ini dikelilingi oleh anak-anak yang belum menanggung dosa. Sungguh tentram rasanya, sungguh hangat suasananya. Tak sedikit pun diri ini ingin beranjak, kami ingin selalu merasakan anugerah ini.

Ketika senja tiba. Indahmu masih saja tak memudar. Kau masih dihiasi tawa canda anak-anak yang berlarian kesana kesini. Semakin membuatmu memikat hati. Datangnya rona senja semakin menambah keindahan mu, bagi kami sang penikmat.

Fafanlap tempat kenangan. Fafanlap tempat pengabdian. Sekarang kita telah berpisah dan sampai saat ini kami masih sulit melupakanmu. Maafkan kami bila tak banyak memberi perubahan. Kami hanya kumpulan pemuda yang ingin belajar. Belajar akan kerasnya, tangguhnya, dan sulitnya menjalani arti kehidupan.

Adik Ku yang Berkerudung Merah



Tiga minggu telah berlalu, dan dermaga itu pun masih sangat ingat akan peristiwa yang telah kita lalui. Semua masih tergambar jelas dalam benak ini. Kau menangis saat itu, dengan kerudung merah yang kau kenakan.
             
Pertemuan kita memang terasa tak biasa. Semua berawal dari senyuman. Kau membalas senyuman itu, sambil kau berlari jauh dan tak kembali. Setiap perjumpaan ingin sekali bibir ini menyapa. Namun aku hanyalah pria yang tak piawai di depan wanita.
                 
Entah prangsangka apa yang ada dalam hati mu? Tapi setidaknya kau perlu tau apa yang ada di hati Ku.
                  
Sungguh semua terasa tak biasa. Entah mengapa? Aku sendiri pun tidak tau. Siang berganti malam, malam pun berganti dengan datangnya siang. Seakan mereka tak perduli, mereka terus berlaju dengan pasti. Mereka tak memahami perasaan ini, sampai akhirnya datang sebuah perpisahan.

Ketika kau menyapa terkadang aku yang kurang peka, dan ketika aku yang menyapa ternyata kau juga tak sepeka apa yang kukira. Semua seperti permainan, permainan yang hasil akhirnya tidak terduga.

Kau memang tampak tak begitu cantik, namun kau sangat manis. Kulitmu yang sedikit gelap, alismu yang tebal, dan matamu yang indah sekarang sudah menjadi kenangan. Benar, kenangan yang sangat sulit untuk dilupakan.
           
Hanya dua kali aku menjumpaimu memakai kerudung. Sungguh kau terlihat cantik dengannya. Aku tidak bohong. Kau terlihat lebih dewasa. Sungguh kakak tidak bohong. Pertama kau pakai dengan yang berwarna biru, yang kedua kau pakai dengan yang berwarna merah. Yang berwarna merah itu bertepatan sekali dengan waktu kepulangan ku.

Aku masih sangat ingat, ketika aku pulang, sehabis mandi di belakang SMP 4 Fafanlap. Kau berdiri, aku tersenyum dan kau pun membalas senyuman itu. Sungguh terlihat meneduhkan karena kau memakai kerudung merah itu.

Ketika hari semakin panas. Matahari naik tak memperdulikan yang lain. Kau pun datang. Tampak masih sangat indah karena kerudung merah itu masih melekat padamu. Entah mengapa saat itu kau berjalan mendekati ku. Ku sambut kau dengan senyuman. Seraya bibir berkata, “ kesinilah Kau!” Kau pun menghampiri ku, seraya berkata, “ada apa?” Aku pun berkata,”besok kalu kau pergi sekolah pakailah kerudung itu terus! kau nampak cantik dengannya.”
                
Mendengar perkataan itu, entah mengapa kau jadi menangis. Padahal sebelum itu kau sama sekali tidak menangis. Salahkah perkataan ini? atau kau tak terbiasa mendengarnya? Aku hanya berharap kau menjadi wanita yang sholihah. Aku tau bahwa kau adalah wanita yang baik. Sudah sekian lama aku mengamatimu, ketika yang lain berjoget kau tak ikut joget. Walaupun pada akhirnya kau ikut joget karena dipaksa oleh kawan mu.

Suatu malam ketika yang lain berjoget, aku pun mengamati mu untuk kesekian kalinya. Sungguh aku tidak suka melihat kau berjoget, saling berhadapan dengan semua pria yang tentu saja menurunkan nilai kemulianmu sebagai wanita. Tetapi kau terus saja menari, seakan kau bangga bahwa itu benar.

Dan kini kita telah berpisah, hanya bisa mengenang semua yang telah terjadi. Biarkan dermaga menjadi saksi akan pertemuan kita, saksi ketika perpisahan terjadi, dan aku hanya bisa memandang mu dari atas kapal fajar Indah II. Selamat berpisah wahai gadis manis dengan kerudung merah, semoga kelak kita bisa bertemu kembali. Sungguh aku sangat merindukan mu.

Teruntuk Adikku di Fafanlap
Rachmad Hidayat, pria yang terpele.

Friday, April 18, 2014

Hati dan Tubuh

Dinginnya malam hanya bisa ku nikmati
menunggu yang bisa ditunggu
menanti seseorang yang terkait hatinya
namun sekian lama ku tunggu tetap saja dia belum nampak

Nampaknya hati ini harus semakin kuat
kuat untuk meniti jalan yang amat jelas
hal itu sudah pasti
namun keindahan selalu menggoda hati

Terkadang dunia ini, baik yang hidup atau yang mati tak mendukung
tapi ku pastikan ini adalah yang terbaik
menguji jiwa agar tidak goyah
sehingga sampai pada ujung jalan yang indah

Tuhan kuatkanlah sebongkah daging yang ada di dada
bantulah hambamu ini meluruskannya
agar tak tertarik bau busuk dunia
sehingga sampai pada aroma surga

Friday, April 11, 2014

Aku Iri

Mentari panas itu hanya di dunia
Karena yang disana akan terasa lebih dan lebih panas
Berjalan memandang sejuk, namun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi
Memang dunia sering memalingkan

Rumah sederhana, tanda yang punya tak sederhana
Hatinya kaya, kaya karena besarnya iman
Dia berjuang tak kenal jatuh dan tersungkur
Yang dia tau hanya bangkit

Dia terus berjuang meski yang lain duduk
Dia tetap berjuang meski yang lain mengkritik
Dia tetap berjuang meski yang lain tersungkur
Dan dia tetap berjuang meski yang lain sedang terpuruk

Sekali lagi hati ini iri
Hati ini semoga baik adanya
Mencontoh yang baik
Dan diberi pentunjuk oleh Nya


Thursday, April 3, 2014

Jalan yang indah

Sedikit merenung akan bergulirnya hari ini
Hari yang penuh optimis menyongsong surga
Tetapi ternyata bayangan itu masih tetap saja menghantui
Namun tetap, waktu ku kan jalani

Bertemu ku dengan sesosok makhluk
Dia memberi bayangan yang sudah lama menjadi tujuan
Hidup sibuk akan kebaikan dan kebermanfaatan
Dan terkandung banyak sisi tauladan

Hati ini sedikit malu
Malu akan diri yang terus masih dalam lingkaran dosa
Diri yang lalai
Diri yang masih dikuasai oleh ego

Namun tekad ini masih teguh tuk mencari jalan yang indah
Jalan antara kau dan aku
Dan senyum ini sedikit berkembang
Karena kau dan aku di jalan menuju tujuan yang sama

Monday, March 31, 2014

Sekelebat Mata

Rasanya diri ini baik adanya
Semua berjalan dengan pasti adanya
Tapi adanya belum tentu sebenarnya
Dan sebenarnya belum tentu adanya

Berfikirnya lurus,
Ntah mengapa masih ada cabang dalam dada
Menatapnya juga lurus
Tapi kenapa masih ada ruang lain dalam qalbu

Tetapi semua terlihat jelas, terlihat samar pun tidak
Tak kan ku hiraukan kau wahai gelap…
Ku kan terus menghampiri pelita
Walaupun kau juga tawarkan pelita yang tak nyata

Sunday, March 30, 2014

Diriku dan Waktu

Kesekian kali ku begini
Merasakan diri terhantam waktu
Hati rasa keadaan akan baik
Namun itu hanya sekedar prasangka hati

Sering kali ku persalahkan waktu
Benarkah waktu yang salah? Atau diriku yang salah?
Pastilah diriku…
Karena waktu itu hanyalah tunggangan

Sekarang ku berkata siap berjuang
Tapi ternyata itu masih dalam mimpi,
Sekarang ku berkata siap berangkat
Ternyata itu juga masih dalam mimpi

Mulut ini memang perlu di kekang
Kekangan yang menyelaraskan dengan apa yang ada dalam dada
Karena ku manusia
Dan waktu hanyalah tunggangan…

Tubuh yang Tenang Dalam Gelap

Masih seperti biasa
Masih dalam masa merenung
Masih dalam kerinduan yang mendalam
Masih berharap semua akan baik adanya

Ku di sini bukan karena mu
Ku di sini bukan untuk mencari prasangka mu
Karena ku tahu kau hanya manusia
Karena ku tahu lidah dan hati mu mungkin beda adanya

Apakah aku yang buta, apa kau yang buta?
Apakah aku yang tak paham?
Tapi kan ku pastikan lidah ini tak akan menusuk mu
Dan ku pastikan hati ini setia memahami mu

Kau hanyalah awal,
awal yang akan menghantarkan pada akhir
Dan kini walaupun dalam gelap,
Ku kan pastikan terus berjalan dengan jalan yang pasti, Bersama mu...

Saturday, March 22, 2014

Cukup

Tak sia ku mengarungi hidup
Hidup yang banyak dihiasi manis pahit perkataan dan asumsi
Mereka berkata yang paling benar
Di sudut lain juga berkata bahwa mereka yang paling benar

Namun hitam putih itu Nampak jelas
Jelas bagi yang tak buta
Namun ku tetap kasihan bagi yang buta
Dia dibimbing, namun tak tau kemana

Yang lain berkata aku punya andil
Andil yang hanya di lidah dan tak beriring
Masih sibuk dengan dosa
Masih sibuk dengan masalahnya

Ku tau diantara barisan pasti ada yang beda
Ku tahu diantara pejuang pasti ada penista
Namun masih saja bingung
Semoga arah ini semakin jelas, jelas menunjukkan kita