Showing posts with label Jejak hidup. Show all posts
Showing posts with label Jejak hidup. Show all posts

Wednesday, April 27, 2016

Memulai lagi

Sudah agak lama saya tak menulis kembali di blog pribadi saya ini. Mungkin sekitar satu tahun, entah lebih entah kurang saya kurang tahu pasti. Rasanya agak malas melihat waktu tenggang di arsip.

Kemarin semangat-semangatnya menulis ketika habis pulang KKN, maklum banyak rasa yang sulit dilupakan, mungkin sedikit berlebihan, namun gimana lagi itu yang terjadi, dan akhirnya saya memaklumi karena temen-teman saya yang lain juga kebanyakan seperti itu, rindu masa-masa KKN.                                                                              
Dan sekarang, sepertinya saya rindu untuk menulis kembali, menulis hal-hal yang entah penting atau tidak, yang penting saya lakukan apa yang sering disampaikan saat seminar kepenulisan, "tulis saja apa yang ada di benak Anda, apa saja, tulislah! Dan saksikan nanti Anda akan tahu sebenarnya tipe penulis seperti apakah Anda ini."

Ya sudah akhirnya kuputuskan untuk menulis lagi. Namun sebelum itu saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar besarkan, dikalau dalam tulisan saya kedepan banyak hal yang "kurang bermanfaat" saya mohon maaf.                                                                  
Saya juga akan mengusahakan setiap postingan saya akan saya publikasikan, minimal di google plus, hehe.                                                                                               Ya sudah, mungkin sampai sini dulu, saya harap teman-teman semua menjadi saksi, apakah saya akan istiqomah atau tidak dalam kegiatan menulis ini.                                                                
Wassalam....

Thursday, April 23, 2015

Damin

10 Juli 2014, kami 19 orang anak Jawa yang miskin akan pengalaman mencoba peruntungan. Perjuangan selama enam bulan untuk mempersiapkan keberangkatan ke timur sana terbayar sudah. Raungan mesin pesawat di Bandara Juanda menjadi saksi keberangkatan kami, keberangkatan yang hampir saja sirna karena minimnya dana. Namun Tuhan berkendak lain, kelompok yang hampir bubar ini diberi kepercayaan untuk menapakan kaki di Papua sana, Kampung Fafanlap, Distrik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat tepatnya.
            
Raungan mesin pesawat yang tadinya memekakkan telinga kini berganti dengan lembutnya suara mesin kapal Fajar Indah II. Namun kelembutan itu tak mampu bertahan lama, sampai datangnya gelombang lautan. Delapan jam sudah perut kami dikocok, isi perut kami tumpah karena tak mampu menahan pening di kepala. Sampai akhirnya pagi hari pun tiba. Kalau kata R. A. Kartini, habis gelap terbitlah terang. Namun bagi kami, habis gelap terbitlah mentari berhias pulau-pulau. Sekumpulan badan yang lemas terbangun, keluar dari kapal, dan menikmati pemandangan yang masih asing bagi pandangan, belum pernah kami melihatnya kecuali di layar laptop kami.
            
Bicara soal pemandangan tiada akan habisnya, semua pasti mengagumkan. Obrolan dengan sesama penumpang di kapal pun hanya bisa mempersingkat waktu, semua terasa singkat. Sampai akhirnya nampak oleh bola mata kami sebuah dermaga. Dermaga Kampung Fafanlap. Dermaga satu-satunya yang disinggahi kapal besar dari Pelabuhan Sorong. Oleh karena itu, pelabuhan ini menjadi pintu akses utama mobilitas penduduk yang berlayar dari Kota Sorong. Membawa segala kebutuhan, baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan lainnya. Dermaga Kampung Fafanlap saat itu ramai sekali, tidak hanya diramaikan oleh orang yang baru datang, namun juga oleh pedagang dan tentunya oleh anak-anak usia sekolah yang hilir mudik untuk mencari hal baru yang datang dari pulau nan jauh disana.
            
Semua prosesi penerimaan dan penyambutan telang dilakukan, kami akhirnya mendapat tempat bernaung di dekat dermaga, rumah yang sederhana, namun mewah bila dibandingkan dengan rumah-rumah warga lainnya. Prosesi melepas lelah pun kami lakukan, bertegur sapa dengan warga sekitar dan bertawa ria dengan anak-anak menjadi obat lelah kami. Bangku tersusun melingkar, anak-anak duduk berkeliling dan kami siap mendengar cerita dari mereka semua. Belum lama memang, namun keakraban kami dengan anak-anak itu cepat sekali terbentuk. Mungkin anak-anak disini memang sudah terlatih seperti itu, menyambut setiap orang yang datang, termasuk kami orang baru.
            
Ketika kami sibuk bercerita tidak jarang kami dikagetkan oleh tangisan seorang anak, ada apa? Ternyata seperti biasa, polah anak-anak di Jawa ternyata juga ada disini. Mereka mudah rukun namun juga mudah sekali berkelahi. Salah satu anak yang paling terlihat aktif, sekaligus aktif dalam hal kenalanannya adalah Damin. Hanya berselang beberapa detik dia sudah membuat ulah kembali. Biasanya anak perempuan menjadi sasaran empuk baginya. Kejadian ini tak hanya sekali, namun sering sekali terjadi. Aku saat itu belum tau Damin ini kelas berapa, yang aku tau saat itu, Damin merupakan anak yang telah ditinggal ayahnya dan memiliki adik yang bernama Abdul.


Interaksi antara kami dan Damin berlangsung sangat sering. Pondokan kami yang dekat dengan dermaga dan berhalaman lapangan sering digunakan anak-anak berkumpul baik sore maupun malam hari. Walau gelap, mereka tak ragu untuk berlari kesana kemari, saling meraih dan mengumbar tawa. Pada malam yang berbeda, saya kembali bertemu dengan Damin. Tanpa ragu dia langsung masuk ke ruangan kami, ruangan yang menjadi tempat tidur sekaligus gudang bagi barang-barang kami. Dia menghampiri sebuah kardus, diraihnya sebuah permain puzzle, dibuka bungkus plastiknya kemudian dia acak-acak bagian kecil puzzle tersebut. Dia berusaha menyusun dan mengembalikan pada keadaan semula, namun nampaknya dia tidak berhasil. Bukannya dirapihkan, dia malah membuka puzzle yang lainnya, ya… walaupun hasil akhirnya tak jauh berbeda dengan puzzle sebelumnya. Kami hanya memasang setting wajah cemberut, namun hati kami tersenyum.

Ketika program guru bantu sudah dimulai, akhirnya aku tau bahwa Damin itu kelas dua Sekolah Dasar. Dia ternyata pernah tidak naik kelas beberapa kali, hati pun bertanya kenapa? Apakah ada hubungannya dengan kenakalannya atau ada sebab lain? Aku ketika itu belum begitu memperhatikan. Sewaktu tak ada jadwal mengajar biasanya aku duduk di teras depan pondokan, menikmati sesaat kesejukan udara yang mungkin tak lama bisa aku nikmati. Bertepatan dengan moment itu biasanya Damin datang, seorang diri, membawa buku satu buah beserta alat tulisnya, dan biasanya tanpa tas. Aku pun bertanya, “apakah sudah selesai belajar disekolahnya?”. Dia pun menjawab, “sudah….” Seperti biasa dia pun langsung masuk dan membaca buku-buku yang kami bawa dari Jawa.

Damin mempunyai adik yang bernama Abdul. Abdul juga sering berkelahi layaknya kakanya, Damin. Sempat beberapa kali aku perhatikan ada yang berbeda dengan Abdul ini. Dia sering sekali memakai baju orang dewasa, baju yang merangkap sekaligus sebagai celana. Aku tanya, “ini baju siapa?”. Dia jawab, “baju saya Kak….” Terkadang juga aku lihat dia tidak memakai baju, hanya celana saja. Kalau tidak salah saya juga pernah bertanya kepada adik Damin ini, “kok gak pakai baju?”, dia hanya menjawab dengan polos seperti anak kecil lainnya, “bajunya dipakai adik saya kak…” Damin memiliki adik lainnya yang juga sering memakai baju kebesaran. Jangan berfikir baju kebesaran yang mahal dan bagus layaknya yang kita miliki, baju yang sering dipakainya adalah baju kampanye yang banyak beredar ketika masa pemilu tiba. Bahannya tipis, lengkap dengan foto caleg dan nomor yang siap untuk dicoblos.


Tak terasa masa pengabdian pun berakhir, sekitar 55 hari lamanya. Kami pun pulang, kembali ke tanah Jawa. Meninggalkan kampung yang penuh kenangan itu. Termasuk kenangan bersama Damin, seorang bocah istimewa yang saat itu jatuh di pelukku, menangis dan seolah berkata, “ Kak… jangan pulang....”.

Sesampainya di Jawa, ternyata hampir semua anggota kelompok KKN kami merasa terpele. Terpele merupakan sebuah istilah yang menerangkan akan rasa terkenang bagi seseorang yang mengalami perpisahan. Bahkan lagunya sampai saat ini masih sering kami lantunkan, judulnya “Gunung dan Tanjung Terpele”.  Ya…, Kami masih rindu dengan Kampung Fafanlap, disetiap pertemuan pasti yang sering dibicarakan adalah seputar agenda KKN yang dulu pernah kita lakukan.

Rasa rindu yang semakin membuncah, akhirnya memberikan motivasi yang kuat bagi salah satu teman kami, Minuk Kusmiati. Dia membulatkan tekad untuk kembali ke Kampung Fafanlap, mengerjakan penelitiannya tentang infeksi cacing pada anak-anak. Tema penelitian tersebut menuntutnya untuk sering berinteraksi dengan anak-anak disana, sehingga Minuk tau pasti akan kondisi mereka pasca program KKN yang kita lakukan di Kampung Fafanlap tersebut.

Setelah tiga minggu Minuk berada di Kampung Fafanlap. Akhirnya dia pulang, dan segenap sahabat KKN yang lain pun menjemputnya. Seperti biasa, rasa rindu kami yang amat besar menyebabkan kami selalu menanyakan bagaimana kabar masyarakat disana, bibik ini, paman itu, bagaimana kabarnya? Dan pada akhirnya kita mendapat kabar yang cukup menyedihkan, Damin yang terkenal nakal namun sering membantu itu, ternyata sudah berhenti sekolah. Hal tersebut dikarenakan tiadanya seragam. Seragam yang dulu saya lihat menghias tubuh sekalnya, kini dipinjamkan kepada adiknya sedangkan dia sendiri berkorban dan akhirnya tidak berangkat ke sekolah.

Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kondisi kedua adiknya yang dulu sering ku lihat memakai baju yang kebesaran? Kenapa aku tidak peka? Bahwa saat itu mereka sangat membutuhkan bantuan, dan akhirnya kini terjawab, hanya karena ketiadaan seragam sekolah, masa depan seorang anak hampir saja terampas. Terampas apabila orang-orang di sekelilingnya tidak perduli.

Wednesday, December 10, 2014

Embun kenangan


Embun
Kau nampak begitu menyejukkan
Setetes demi setetes kau jatuh, seakan tak mau berpisah dengan ujung daun
Kini kau hanya berpindah dan akhirnya menyejukkan yang lain

Embun
Kau hadir di pagi yang dingin
Dan kau pergi dikala semua terasa hangat
Kau menguap dan entah kemana perginya

Kenangan
Kau juga nampak begitu indah
Tak sedikitpun berkurang, seakan melekat begitu dalam
Kini kau hanya berpindah dari hati ke hati yang rindu akan pertemuan

Kenangan
Kau hadir dikala perpisahan nampak begitu menyakitkan
Dan kau datang dikala ikatan hati terasa semakin hangat dan semakin berpadu
Kau semakin nyata dan entah kapan perginya

Embun
Kau menguap kemana?
Jika kau terbang kesana tolong sampaikan rasa ini
Rasa rindu yang kian menjunjung

Embun
Sampaikan juga salamku untuknya
Bilang, jangan pernah dia lupa
Karena ku juga akan selalu mengenang

Kenangan
Kau datang darimana?
 Jika kau masih saja bertahan tolong jangan siksa
Rasa mu, sungguh telah memenuhi bilik hati yang ada

Kenangan
Sampaikan semua rasa yang ada
Ingatkan semua memori akan arti perjalanan
Jaga, jangan sampai hilang dan ingatkan dikala diri lupa

Sunday, November 16, 2014

Bunga Rindu

Dua setengah bulan, waktu yang sebentar bagi hati yang merindu. Saat itu, mungkin saat terindah, dan ku menyesal tak sepenuhnya ku hayati semua. 

Bagai angin yang silih berganti dan meninggalkan kesan membelai tubuh. Begitu halnya dengan kau, terasa baru sebentar, membelai tubuh, menyisakan kerinduan, dan kini berpisah entah kemana.

Mungkin aku nampak gila, terus bercerita, semoga saja kau tidak bosan mendengarnya. Betul aku tidak bohong, kau menorehkan pesan yang sangat dalam, sampai saat ini, setiap ku pandang setiap memori, walau terkadang hanya membuat sesak hati, karena perpisahan itu telah terjadi.


Saat kau rangkul aku dengan semua temanmu. Kau tarik setiap sudut bajuku. Tak mau, ku selalu tinggalkan kau pergi, kau mengejar, dan kau selalu saja kembali, seakan tiada kata letih. Senyum manis itu selalu ada, menghias hati yang lelah karena urusan dunia.

Kau membuat kesal, memang. Saat ku terangkan, kau selalu asik bertengkar. Tak memperdulikan, itu selalu menjadi alasan bagiku menegurmu. Kau berlari, kesana kesini, dan tak mengindahkan perasaan hati.

Tapi tak mengapa, kesalku hanya dibibir, tak sampai hati. Hati selalu bangga dengan kau yang berjuang dengan segala keterbatasan. Berjuang meraih asa ketika yang lain sibuk berputus asa.

Teringat saat ku pulang, sehabis mengajarmu sebait pelajaran kehidupan. Kau menghalau ku, memaksa ku mendengar gurauanmu. Kau sebut dengan MOB, rakaian cerita lucu yang terkadang ku tak paham apa isinya. Namun ku paksa bibir tertawa, supaya senyummu selalu berbunga.

Terkadang saat pagi, saat kami masih sulit walau sekedar membangkitkan tubuh sendiri. Suara mu sudah terdengar. Berpakaian sekolah, berjalan sendiri, berusaha mencari rejeki dengan keranjang kecilmu. Luar biasa, salut ku selalu terbesit walau tak pernah sampai terucap.

Dan akhirnya ketika tangismu menjadi penutup kisah. Kisah yang entah bersambung atau tidak. Aku juga tak tau. Hanya air matamu dan langkah kecilmu yang selalu ku ingat. Saat kapal itu terus berlaju, tak hanya memisahkan pandangan, namun senyum dan juga hangat dekapanmu. Kini sudah tak terasa.

Kini hanya rindu yang ada, hanya keluh kesah akan perpisahan. Ya sudah tak mengapa, hanya doa, dan ku harap kau pula selalu berdoa. Supaya segera berjumpa. Yang penting kau jaga, jangan lupa…

Sunday, October 19, 2014

Kau yang Tak Biasa

"Kau yang ku rindu"
Kau telah buktikan bahwa kau memang tak biasa, kau telah buktikan bahwa alammu memang pantas untuk dikenang, dan kau telah buktikan bahwa pertemuan dengan mu tak sewajarnya untuk dilupakan. Kau terkenang begitu dalam, mungkin sampai mengendap dan sangat sulit untuk dibersihkan."

"Waktu yang sudah berlalu, kurang lebih lima minggu lamanya, telah menjadi saksi bahwa kau sungguh sangat tegar. Mencekram sangat kuat dalam setiap relung hati. Setiap saat kau selalu berlari dan berputar dalam benak ini, mengoda hati, mengingatkan kembali, dan aku hanya termenung sendiri mengingat semuanya."
                
"Benar memang adanya, ku akui semuanya, bahwa aku memang masih merindukan mu. Masih mengingat setiap kesan yang kau beri. Belaian angin, suara ombak, gambaran pulau-pulau, masih ketara jelas dalam pikiran ini. Sungguh Kau nampak tak biasa, semua lekuk polamu betul-betul tak biasa."
                
"Beruntung lisan ini masih senantiasa berbalas, masih mengetahui kabar mu nan jauh di sana. Mendengar sedikit cerita tentangmu, membuat kau serasa masih di depan mata, jarak yang jauh sudah kalah oleh kuatnya ikatan hati."

"Melihatmu kembali, mengingatmu kembali, dan membayangkanmu kembali semakin membuat rindu hati. Semoga kau tak lekas lupa, karena kami di sini selalu berusaha untuk senantiasa mengingatmu. Mengingat dalam kenangan."

Friday, October 3, 2014

KKN-PPM UGM Unit PPB 01, "Kenangan"



       Bangsa ini kaya, maka kayakanlah penduduknya. Bangsa ini besar, maka besarkanlah hati penduduknya. Semua makna itu kami temui, berkat program KKN ini. Program yang tak hanya membuka mata, tetapi juga membuka hati.  Terimakasih Kampung Fafanlap yang mau menerima kami dengan segala kekurangan. Banyak pelajaran kami dapatkan dari mu. Rasa kepedulian, kebersamaan, keteguhan, dan cinta bisa kami dapatkan di sana. Alam mu indah begitu juga dengan hati mu. Semoga kelak kita bisa dipertemukan kembali, dalam lembaran kisah yang lebih indah dan terkenang. Salam dari kami kumpulan mahasiswa KKN PPM UGM 2014 yang sampai saat ini masih “terpele”, karena berpisah dengan mu. 

Wednesday, September 24, 2014

Ternak Fafanlap yang Ingin Dimengerti


"Ternak Kampung Fafanlap yang ingin dimengerti"
Fafanlap adalah sembuah kampung yang berada di Distrik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat. Sebuah tempat yang dominan akan pulau-pulau. Hanya lautlah yang dapat dijadikan jalur mobilitas masyarakat. Mobil dan motor terasa tidak berguna di sini. Demografi daerah Misool yang unik juga menyebabkan tidak semua potensi alam dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Mayoritas penduduk Fafanlap bekerja sebagai nelayan dan sebagai buruh di perusahaan mutiara. Selain bekerja sebagai nelayan dan buruh di perusahaan mutiara, ada juga yang bekerja sebagai pengrajin rotan. Rotan tersebut dibuat menjadi aneka properti rumah tangga seperti bangku, meja, lemari dan lain sebagainya. Beberapa keluarga juga ada yang mencari tambahan penghasilan dari berjualan kue. Kue tersebut banyak macamnya dan dijual dengan cara berkeliling di Kampung Fafanlap. Ada juga keluarga yang bekerja sebagai penganyam daun tikar, daun tikar tersebut selain dibuat tikar juga bisa dibuat menjadi topi yang tak kalah bagusnya.

Kegiatan pertanian yang masih digeluti oleh warga Fafanlap adalah kegiatan berkebun. Masyarakat memiliki kebun yang tersebar di bukit, yang terletak di belakang kampung. Dari beberapa jenis kegiatan usaha yang dilakukan oleh masyarakat tersebut,  yang paling menjanjikan adalah sebagai nelayan. Mengingat Kampung Fafanlap termasuk daerah yang kaya akan tabungan ikannya. Ikan yang ditangkap oleh warga Fafanlap merupakan ikan yang memiki nilai ekspor tinggi. Maka tak heran di sana sering dimasuki oleh kapal-kapal yang akan membeli ikan.

Jenis kegiatan usaha lainnya selain sebagai nelayan adalah sebagai pekerja di perusahaan mutiara. Di perusahaan mutiara ini beberapa warga Fafanlap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun penghasilnya masih kalah jika dibandingkan sebagai nelayan. Namun menjadi pekerja di perusahaan mutira cenderung memiliki resiko yang lebih kecil dibandingkan menjadi nelayan, karena tak perlu memikirkan datangnya angin selatan yang menjadi momok menakutkan bagi nelayan. Datangnya angin selatan menyebabkan ombak menjadi besar dan juga menyebabkan ikan sulit untuk ditangkap.

Pengrajin rotan juga merupakan jenis usaha yang cukup menjanjikan untuk wilayah Misool. Mengingat banyak terdapat resort yang sering memesan berbagai kerajinan rotan untuk memperhias resort-resort di sana. Menjanjikannya peluang ini, tak lantas membuat banyaknya pengrajin rotan yang ada. Pengrajin rotan di sana hanya beberapa orang saja, seperti Pak Indra dan Pak Zufri. Hal itu terjadi biasanya dikarenakan kurangnya modal atau dikarenakan susahnya mendapatkan bahan baku. Keadaan pengrajin daun tikar hampir sama dengan pengrajin rotan, hanya saja pengrajin daun tikar sering terkendala masalah penjualan yang sulit. Penjualan hasil kerajinan tikar yang sulit dikarenakan daerah Fafanlap merupakan daerah kepulaan yang sebagian besar daerahnya merupakan laut.

Sedangkan usaha berjualan kue biasanya dilakukan sebagai sambilan saja. Diawali dengan pembuatan kue dengan berbagai macam jenis dan anak-anaklah yang akan menjualnya dengan cara berkeliling kampung. Terkadang proses penjualan itu dilakukan sembari sekolah, bermain, dan ketika ada acara tertentu di Kampung Fafanlap. Hal ini sangatlah penting dalam pembentukan mental anak-anak, agar kelak dia menjadi pengusaha yang ulung. Apabila dicermati, anak-anak yang berjualan merupakan anak-anak keturunan suku bugis, suku yang terkenal akan mental jual belinya.

Beda lagi dengan kegiatan pertanian yang banyak dilakukan oleh warga Fafanlap. Kegiatan pertanian yang dilakukan di sana biasanya mengandalkan tanaman jangka panjang. Mereka menanam tanaman yang dapat ditinggal dalam waktu lama seperti kelapa, pala, cengkeh, melinjo dan lain sebagainya. Walaupun beberapa warga juga ada yang menanam tanaman jangka pendek seperti cabai dan tanaman sayur. Masalah mendasar yang dialami warga Fafanlap terkait kegiatan pertanian adalah belum pahamnya masyarakat akan cara perawatan tanaman yang baik, terutama terkait pembasmian hama. Hal ini lebih diperparah lagi dengan susahnya mencari bahan-bahan yang digunakan dalam pembasmian hama tersebut. Warga perlu pergi jauh ke Sorong untuk mendapatkan segala macam bahan yang diperlukan dalam kegiatan pertanian.

Dari semua jenis kegiatan usaha di Kampung Fafanlap, ada yang unik di sini. Ada kegiatan usaha masyarakat yang dianggap menimbulkan masalah bagi kegiatan usaha yang lain. Kegiatan itu adalah bidang peternakan. Mengapa bidang peternakan dianggap sebagai masalah di sana? Sebenarnya bukan ternaknya yang salah, namun masyarakat sekitar yang tidak mau melakukan managemen ternak dengan baik.

Awal cerita terkait masalah peternakan ini adalah banyaknya sapi yang merusak pertanian warga. Sapi ini bukan sapi liar, akan tetapi sapi peliharan warga yang sudah tidak lagi dirawat. Sapi-sapi itu dulu merupakan bantuan dari pemerintah daerah sekitar, diberikan hanya ke beberapa kelompok petani. Namun akhirnya dilepaskan ke hutan dikarenakan ketidaktelatenan masyarakat dalam memeliharanya. Sehingga sekarang sapi-sapi itu menjadi liar dan malah menjadi hama bagi pertanian penduduk.

Sapi-sapi yang dilepas kehutan merupakan sapi bali. Salah satu spesies plasma nutfah yang terkenal di Indonesia. Bagusnya lagi sapi ini merupakan sapi yang perbandingan jumlah dagingnya lebih besar daripada tulangnya. Hal ini membuat sebagian peternak memilih sapi bali sebagai peliharaan dibandingkan sapi lainnya. Selain sistem pemeliharaan yang mudah yaitu dengan di lepas di ladang pengembalaan, sapi bali juga sangat bagus dalam hal reproduksi. Sungguh sangat sanyang, sapi dengan kualitas bagus tersebut tidak dikelola dengan baik oleh masyarakat Fafanlap. Sekarang sapi-sapi itu sudah berjumlah sekitar 150 ekor dan tidak jelas lagi kepemilikannya, siapa yang dapat menjeratnya maka itulah pemiliknya. Sistem kepemilikan yang seperti itu sangat rentan menimbulakan konflik di antara warga masyarakat. Ternak itu sekarang sudah semakin liar dan buas, mereka bisa menghancurkan ladang pertanian masyarakat kapanpun mereka mau.

Sebenarnya kondisi demografi yang unik di Kampung Fafanlap terkait sistem pengembalaan ternak bisa diatasi. Perbukitan di belakang Kampung yang dibatasi oleh sungai dan laut bisa menjadi alat pembatas alami yang menyebabkan sapi tidak bisa pergi kemana-mana. Dia hanya bisa berkeliling di daerah itu untuk mencari makan. Terkait ancamannya terhadap daerah pertanian masyarakat, seharusnya masyarakat tidak membuat pembatas hanya untuk kebunya sendiri melainkan mereka harus serentak membuat pembatan agar sapi tidak masuk ke semua lahan pertanian masyarakat.

Pembatas itu dapat berupa parit buatan yang dialiri air atau tidak, yang harus dipastikan adalah sapi tidak bisa melaluinya. Memang kegiatan pembuatan parit pembatas bukanlah hal yang mudah, selain itu bukit yang berada dibelakang kampung lahan yang rata. Namun hal ini perlu dicoba, mengingat masalah yang terus terjadi. Pembatas lainnya yang dapat digunakan dalam menghadang ternak adalah pagar beraliran listrik. Cara ini juga cukup efektif, namun kendalanya adalah listrik di kampung Fafanlap yang kurang bisa diharapkan. Sumber listrik di sini hanya berasal dari genset dan hanya bisa digunakan pada waktu-waktu tertentu saja. Selain itu masyarakat pati akan memprioritaskan listrik untuk pencahayaan rumah dibandingkan untuk sekedar mengaliri pagar.

Apapun caranya, yang pasti masyarakat harus mengambil tindakan. Apabila sapi itu sudah bisa teratasi, maka hal itu justru akan sangat menguntungkan bagi masyarakat. Selain lahan pertanian yang aman dari kerusakan. Masyarakat juga dapat mengelola peternakan sapi balinya dengan baik dengan cara digembalakan secara bebas di alam. Peternak tak perlu sulit menyediakan pakan karena semua telah tersedia di bukit, dibelakang kampung. Pertanian dan peternakan bisa berjalan sekaligus, tanpa perlu takut ada gangguan dari kegiatan usaha yang lain.

Pembahasan sebelumnya terkait sapi, dan sekarang kita membahas jenis ternak lainnya yang berada di Kampung Fafanlap. Jenis hewan ternak lainyaitu adalah kambing. Keberadaan kambing di Kampung Fafanlap hampir tak beda keadaannya dengan sapi. Kambing di sini selain menjadi tambahan penghasilan, juga menjadi tambahan masalah. Kambing berkeliaran kesana kemari, memakan semua yang ada, tidak hanya rumput namun juga segala tanaman yang ada di depan rumah warga. Kambing di desa Fafanlap ini semakin aneh karena terbiasa memakan makanan yang tidak lazim bagi seekor kambing seperti ikan dan bahan makanan lain.

Kambing yang berkeliaran, terkadang menyebarkan kotoran ke semua bagian kampung dan yang paling mengesalkan warga adalah ketikan kotoran itu berada di depan teras rumahnya. Sebenarnya ini semua bukan salah kambingnya, sama halnya dengan permasalahan sapi. Semua ini terjadi karena masyarakat tidak mau memelihara ternak sebagaimana mestinya. Ternak kambing di sini memang jelas siapa pemiliknya, namun mereka tidak mau membuat sistem perkandangan yang baik. Ternak hanya dibuatkan tempat bernaung, ketika pagi datang kambing dibiarkan pergi kemana saja dan pada sore harinya dibiarkan pulang kapan saja. Kambing tersebut dibiarkan mandiri, mencari makanan sesuka hati.

Selain ternak sapi dan kambing ada juga ayam kampung yang dipelihara oleh masyarakat Kampung Fafanlap. Keadaan ternak unggas memang lebih menjanjikan bila dibandingkan saudaranya sapi dan kambing. Ternak ayam kampung disini sudah bisa memberikan masukkan bagi warga yang memeliharanya, walaupun sistem pemeliharaan yang dilakukan hanya sebatas lingkup rumah tangga dan jumlahnya pun tidak begitu banyak. Kendala yang sering dihadapi oleh masyarakat terkait terkait ternak ayam adalah iklim pesisir yang terkadang tidak cocok bagi kesehatan ayam. Mengingat uap air garam lebih panas apabila dibandingkan uap air sungai. Selain itu kendala beternak ayam kampung di sana adalah banyaknya musang berambut manusia. Masyarakat sering mengeluh karena kehilangan ayam kampungnya, bukan karena dimakan hewan buas melainkan diambil oleh tangan yang tidak bertanggung jawab.

Salah ternaknya kah? Atau salah peternaknya? Kita semua bisa menilai dari diri kita masing-masing. Dalam ilmu ekonomi sesuatu yang tadinya bermanfaat dan setelah itu berkembang dan tidak dilakukan managemen dengan baik, maka bisa menjadi permasalahan baru bagi sang empunya. Potensi peternakan di Kampung Fafanlap memang luar biasa, walaupun masih kalah dengan potensi perikanan, setidaknya bidang peternakan ini harus terus dikembangkan mengingat manusia memerlukan variasi bahan pangan sumber protein, tidak hanya dari ikan namun juga protein yang bersumber dari hewan ternak.

Jagalah Anak-anak Kita

"Generasi Fafanlap, mutiara yang tersimpan"
 
  Badan yang lelah, tak membuat alam berhenti bergerak. Semua bergerak secara teratur. Memenuhi setiap sendi-sendi kehidupan. Begitu juga kehidupan masyarakat Fafanlap, berjalan sebagaimana mestinya. Anak-anak bermain dengan riangnya, seakan-akan mereka belum tahu akan kerasnya dunia ini. Para orang tua pun masih sibuk dengan segala aktivitas kesehariannya, salah satunya  adalah mencari nafkah untuk keluarga tercinta. 

         Matahari yang tadinya gagah menghadang, menatap kita dengan panasnya yang terang, sekarang sudah berganti kawannya sang rembulan yang lebih sejuk, indah dipandang, dan mampu menemani malam kita dengan sebuah kenangan. Tepatnya rembulan terang di bulan Ramadhan. Bulan pembelajaran, pengampunan, dan kemenangan bagi umat Islam. Alhamdulillah di Kampung Fafanlap tempat kami mengabdi, tim KKN PPM UGM unit PPB 01, merupakan kampung dengan penduduk 100% Islam. Hal ini membuat bulan ramadhan kami akan semakin berbeda dan terkenang.

          Tepatnya 12 Juli 2014, sore hari, sesaat setelah kami datang di Kampung Fafanlap ini. Sekaligus hari pertama kami di tanah Misool. Suasana senja terasa sungguh berbeda. Bunyi riuh ombak, jeritan anak-anak yang bermain di sekitar dermaga, dan suara hembusan angin pesisir merupakan suatu hal yang jarang sekali kami rasakan ketika berada di Jogja. Mereka semua menyambut dan membelai kami dengan suguhan yang menentramkan jiwa. Pejalanan yang kami tempuh memang bukan perjalanan yang singkat, butuh waktu tiga hari dua malam sebelum akhirnya kita sampai di sini. Semua suguhan itu semakin terasa nikmat bagi kami tim KKN PBB 01 untuk sedikit merebahkan badan, setelah tadi siang kami disibukkan dengan agenda bersih-bersih pondokan, tempat kami bernaung dan menyandarkan segala perasaan kurang lebih 50 hari di Kampung Fafanlap ini.

            Tak terasa suara tifa sudah bertalu-talu, pertanda telah datangnya waktu shalat Isa, segenap anggota KKN mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat Isa bersama warga sekitar. Pertanda shalat di Kampung Fafanlap ini memang sedikit berbeda dengan pertanda sholat di Jogja sana. Di sini hanya mengandalkan tifa untuk mengingatkan jamaah ketika waktu shalat telah datang, sedangkan untuk pengeras suara jarang sekali dipakai. Kami pun harus jeli dan memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar setiap tabuhan, apabila tidak mau tertinggal shalat berjamaah dengan warga. Shalat isa pun berlangsung dengan khusuk dan diakhiri dengan dzikir bersama.

            Seselesainya shalat Isa dan dzikir bersama, kami pun melaksanakan shalat tarawih. Tarawih dengan rakaat yang lebih banyak, namun pelaksanaannya yang sedikit lebih cepat. Sungguh sangat berbeda dari segi kecepatannya dibandingkan dengan di Jogja sana. Ya lebih cepat, bahkan sampai membuat keringat sedikit bercucuran. Bahkan beberapa dari kami anggota tim KKN, satu demi satu berguguran setiap harinya. Ada yang hanya sholat delapan rakaat lalu pulang dan ada juga yang hanya shalat di pondokan saja. Walaupun terkadang ada rasa malu, malu karena kalah dengan Pak Imam yang tentu saja usianya sudah jauh lebih tua dari kami, namun beliau masih kuat untuk tarawih dengan kecepatan yang sungguh tak biasa.

            Rakaat demi rakaat tarawih kami laksanakan, sampai akhirnya shalat tarawih pun selesai. Sepintas terasa sebuah kehangatan di sela-sela kegiatan dzikir bersama. Kehangatan yang tercipta bukan hanya karena cepatnya gerakan tarawih yang menyebabkan tubuh ini sedikit berkeringat, namun kehangatan kebersamaan di tengah perbedaan yang kemudian perbedaan itu disatukan dengan keimanan. Kehangatan keimanan warga Fafanlap pada bulan Ramadhan yang penuh dengan pesan.

Tarawih pada malam itu diakhiri dengan kultum dari Pak Imam. Sosok imam kampung. Berwajah teduh, bijak, dan menunjukkan tauladan. Kearifan daerah setempat terpancar dari wajahnya. Seorang imam yang sangat dihormati dan disegani, setiap kebijakan kampung tak hanyal harus meminta persetujuan dari beliau. Bahkan kunjungan wisata yang ingin mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat juga harus atas ijinya.

            Dibukalah kultum dengan ucapan syukur kepada yang Maha Kuasa dan dilanjutkan dengan shalawat kepada suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW. Seketika itu, Pak Imam menyampaikan beberapa nasihat yang kurang lebih inti nasihatnya adalah, “Jagalah anak-anak kita, didik, dan jangan biarkan mereka jauh dari nilai-nilai agama.” Terdengar sederhana, namun tidak begitu dengan maknannya. Pesan ini lebih mengena mengingat Fafanlap merupakan kampung pesisir yang jauh dari pusat perkotaan dan merupakan cikal bakal perkampungan di sekitarnya. 

Letak Kampung Fafanlap yang jauh dari hingar bingar perkotaan menyebabkan mayoritas pemudanya sering pergi jauh untuk merantau. Mereka pergi merantau dengan banyak alasan, baik untuk pergi menuntut ilmu, mencari pengalaman, maupun mencari sedikit penghasilan. Kondisi ini didukung dengan minimnya sumber mata pencahariaan yang ada di sana. Kegiatan merantau inilah yang menyebabkan mereka jauh dari kampung halaman dan pengawasan orang tua. 

         Apabila melihat fenomena saat ini, dimana banyak pemuda daerah yang tergoda glamornya kehidupan kota. Bukan perbaikan yang mereka bawa, tapi beban sosial baru. Mereka membawa budaya negatif kota yang merusak dan selanjutnya mereka tanamkan nilai-nilai itu di desa kelahirannya. Maka tepatlah apabila Pak Imam menyampaikan pesan ini kepada jamaah yang hadir pada saat itu, tidak lain agar kampung Fafanlap ini selalu terpelihara akan nilai-nilai keislaman dan dijauhkan dari budaya-budaya yang merusak. Sungguh sayang apabila indahnya Kampung Fafanlap tertutupi oleh noda hitam yang itu dibuat oleh generasinya sendiri.

            Kita bisa lihat Imam-imam besar dalam perjalanan sejarah Islam. Mereka pergi jauh merantau ke seluruh belahan bumi. Tetapi ketika mereka kembali, yang mereka bawa adalah ilmu. Godaan dunia tak kuasa merasuk dalam hati mereka. Karena prinsip agama ini, cukup dunia ada di genggaman tangan dan yang berada di hati hanyalah keimanan. Sekali lagi rahasianya adalah keimanan dan bekal ilmu agama yang mereka persiapkan sebelum pergi merantau.

        Pelajaran kini ku dapat, sungguh meningkatkan keimanan dan memperdalam ilmu agama sangatlah penting bagi kita seorang pemuda. Jangan sampai godaan hidup yang kita jumpai dapat merusak kepribadian kita. Persiapkan semua sejak dini dan terus belajar, terutama bekal agama. Keimanan kita harus semakin kuat terhadap berbagai godaan dunia. Sehingga ketika kita kembali ke kampung halaman, perbaikanlah yang kita persembahkan.

            Nasihat ini pun tak pelak bagi generasi-generasi tua agar dapat mempersiapkan generasi muda yang tangguh. Tangguh dengan keimanan dan keilmuan agama. Jangan sampai hanya kerena egoisme golongan tua, anak-anak menjadi korban akan ketidakperdulian mereka. Kewajiban orang tua tidak hanya sekedar pangan, sandang, dan papan tetapi juga bekal kepahaman akan agama Islam ini. 

Terima kasih Fafanlap, kau telah menjadi episode-episode indah dalam lembaran kehidupan kami. Salam dari kami mahasiswa KKN PPM UGM, semoga kelak kita bisa dipertemukan kembali dalam kesan yang lebih baik dan semakin indah untuk dikenang. Kami selalu mendoakan kebaikan untuk kita semua. Semoga kita termasuk hambanya yang istiqomah di mana pun berada.