Monday, March 16, 2015

Setiap tikungan

Setiap tikungan selalu ada kejutan
Kejutan perasaan dan hasil sebuah perjuangan
Dia datang tanpa perlu kau undang
Hadirnya mendadak dan akan menghujam begitu dalam

Yang kau perlukan adalah sebuah keyakinan
Bahwa dia datang dan pergi pasti karena ketentuan
Terkadang kau harus menanti bersama dengan sebuah kejemuan
Namun nanti kau kan tau hakikat sebuah kerinduan

Bisa bersabarkah dengan penantian?
Bisa bertahankah dengan godaan?
Padahal dia selalu menggoda dan meminta untuk diperjuangkan
Berbinar, berkilau, menarik kaki yang sulit dirayu walau sekedar untuk berjalan

Sepertinya memang aku harus bersabar
Meremas hati agar ego dan nafsu tidak terus berkibar
Menelusuri rasa yang kata hati bisa jadi benar
Menata jiwa sampai datangnya sebuah kabar

Sunday, January 4, 2015

Asa Di Relung Hati


Nampaknya kekayaanmu bukan hanya sekedar mimpi. Kesekian kali ku melihat, kesekian kali jua ku merasa kagum dan tertegun, terdiam, hanya bisa membayangkan, kapan sekiranya aku bisa berkeliling mengambil makna di setiap penciptaan.
                
Ku tulis kembali setiap bait ungkapan hati, ungkapan hati yang masih terbelenggu dan belum terwarnai. Ku lihat kau hanya dari rangkaian cerita yang orang lain suguhkan. Semua ku lakukan agar ku semakin mencintaimu, agar aku semakin memahamimu, dan akhirnya aku mampu memelukmu.
                
Hanya bisa bersyukur. Syukur karena rasa cinta ini telah tubuh, tumbuh menghiasi jiwa yang tadinya gersang akan kebanggaan. Namun kini dia mulai tumbuh, tumbuh diantara ketidakpedulian. Kebanggaan yang tumbuh di tengah jiwa yang hampir kandas akan tujuan.
                
Kini semua berbeda. Harapan kini semakin luas adanya. Aku tak mau hidup hanya memikirkan besok ingin makan apa, besok biaya anak sekolah bagaimana, besok dan besok, sungguh aku tak mau. Ku berharap itu sudah terpenuhi, tak perlu menjejali ruang hati, dan aku bisa terus berbakti.
                
Mungkin ku terlalu berani mengungkap setiap asa, padahal langkah ku kini masih buruk adanya. Mengurus diri sendiri saja belum selesai. Hidup masih sibuk dengan urusan pribadi, belum bisa mandiri, maka mana mungkin bisa berdarma bakti.
                
Aku yakin cerita akan dirimu tidaklah sederhana. Setiap lekukmu adalah serangkaian buah hikmah. Hikmah yang akan didapatkan ketika mereka berani menyelami tanpa perduli banyak orang mengingkari. Itulah yang membuatku kini berani bermimpi, berani menulis setiap lembar target menuju pelukmu. Merangkai asa walau terkadang banyak alasan untuk bisa berputus asa.
               
Maaf, ketika ku terlalu banyak berceloteh lewat tulisan. Namun semuanya belum terukir abadi dalam nisan. Ku harap semua tulisan ini mengingatkan ku kembali dikala hati sedah lemah, dikala hati patah arah, dikala hati butuh akan beberapa petuah. Mohon doakan selalu, agar aku segera dapat memelukmu dan membuat cerita betapa besarnya rasa banggaku padamu.

Wednesday, December 10, 2014

Embun kenangan


Embun
Kau nampak begitu menyejukkan
Setetes demi setetes kau jatuh, seakan tak mau berpisah dengan ujung daun
Kini kau hanya berpindah dan akhirnya menyejukkan yang lain

Embun
Kau hadir di pagi yang dingin
Dan kau pergi dikala semua terasa hangat
Kau menguap dan entah kemana perginya

Kenangan
Kau juga nampak begitu indah
Tak sedikitpun berkurang, seakan melekat begitu dalam
Kini kau hanya berpindah dari hati ke hati yang rindu akan pertemuan

Kenangan
Kau hadir dikala perpisahan nampak begitu menyakitkan
Dan kau datang dikala ikatan hati terasa semakin hangat dan semakin berpadu
Kau semakin nyata dan entah kapan perginya

Embun
Kau menguap kemana?
Jika kau terbang kesana tolong sampaikan rasa ini
Rasa rindu yang kian menjunjung

Embun
Sampaikan juga salamku untuknya
Bilang, jangan pernah dia lupa
Karena ku juga akan selalu mengenang

Kenangan
Kau datang darimana?
 Jika kau masih saja bertahan tolong jangan siksa
Rasa mu, sungguh telah memenuhi bilik hati yang ada

Kenangan
Sampaikan semua rasa yang ada
Ingatkan semua memori akan arti perjalanan
Jaga, jangan sampai hilang dan ingatkan dikala diri lupa

Monday, December 1, 2014

Halaman Sekolah Ku Lumpur Kawan


Sekolah yang nyaman, mungkin bukan hal yang aneh bagi kita, penduduk Indonesia kelas menengah ke atas. Fasilitas sekolah yang lengkap juga tak berbeda halnya, tersedia dan mampu kita gunakan kapan saja. Apalagi Anda yang bersekolah di kota-kota besar, terutama daerah Jawa, semua itu sudah menjadi barang lumrah. Hal yang membuat kita banyak melayangkan protes, ketika hanya kurang sedikit saja dari apa yang diharapkan, tanpa pernah mau mensyukuri. Terlalu sering mendongakkan kepala, namun jarang sekali melihat kesamping, apalagi ke bawah, mungkin tak pernah.

Kesadaran yang ada mungkin kini masih kurang, tapi bukan berarti tak bisa dibentuk dalam diri kita masing-masing. Terapinya mudah, melihatlah kebawah, jika tak bisa, bolehlah melihat kesamping kiri dan kanan. Banyak saudara kita yang masing asing dengan kata bangku sekolah, tidak usah sampai kata menuntut fasilitas, sudah ada guru yang mengajar saja, mereka sudah banyak berucap syukur. Walau atapnya berupa langit, walau dindingnya berupa barisan pohon-pohon, dan walau lantai hanya berupa tanah yang terkadang berubah menjadi lumpur. Mereka selalu mencoba untuk menikmatinya.

Juli 2014, tepat awal bulan Ramadhan. Perjalanan kita lakukan, sekelompok anggota KKN PPB 01 UGM yang ingin belajar bagaimana kehidupan di tanah Papua. Tanah yang katanya indah, tanah yang katanya kaya akan sumber daya alam, dan tanah yang katanya menjadi sumber berbagai hasil tambang. Sekitar 4 jam kami lakukan perjalanan dari Yogyakarta sampai di Sorong. Sesampainya di Bandara Dominique Edward Osok, semua mulai berbeda, suhu lingkungan sekitar yang sedikit panas dan karakteristik warganya mulai menyapa kita. Tibanya malam hari, sekitar jam 01.00 malam waktu Indonesia timur, perjalanan kami lanjutkan ke kampung tempat kami melakukan Kuliah Kerja Nyata.

Singkat cerita, suasana pagi dengan pemandangan laut sudah terlihat di mana-mana, menyapa pagi kita, setelah bangun dari lelapnya malam. Sampailah kita di sebuah kampung, kampung pesisir, dimana kita akan bernaung satu bulan lamanya. Kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat. Tempat kami belajar menerapkan ilmu yang telah kami peroleh di bangku perkuliahan.

Alam Kampung Fafanlap sungguh indah, tak nampak adanya kendaraan, bahkan pesawat tak terlihat sibuk lalu lalang di langit. Semua itu membuat udara di kampung ini terasa sangat segar. Ditambah lagi pesona pulau-pulau kecil, menghiasi setiap lekuk indahnya tanah Papua. Lautnya pun sangat indah, banyak terdapat karang di dalamnya, semakin indah dengan banyaknya ikan yang hilir mudik untuk memamerkan corak-corak siripnya.

Terpuaskan dengan indahnya Kampung Fafanlap, ku coba berkeliling untuk melihat kondisi kampung. Entah mengapa salah satu sahabat mengajak pergi ke sebuah sekolah SMP di kampung Fafanlap ini. Berjalanlah kami, melewati kumpulan perumahan warga, dan senyum sapa pun selalu berbunga dari wajah-wajah warga yang kami jumpai.

Sampailah kami disebuah SMP, SMP N 14 Raja Ampat. Dimana jalan Tutwuri Handayani mengantarkan kami ke gerbang sekolah itu. Masuklah kami kehalamannya, yang kemudian dilanjutkan kebagian-bagian sekolah yang lain. Selama perjalanan kami di SMP tersebut, kami cukup sering mengucapkan rasa syukur. Mengapa? Karena sekolah kami dulu cukup bagus daripada SMP N 14 Raja Ampat ini. Sekolah kami memiliki banyak ruang kelas, namun sekolah disini hanya 3 ruang kelas yang bisa dipakai dari sekitar tujuh kelas yang ada. Cat sekolah kami cukup bagus dan halus, namun sekolah disini jangankan cat, bolong dinding dengan senantiasa menjadi penghias dinding dimana-mana. Sekolah kami berlantai keramik yang terkadang bisa kita gunakan sebagai cermin, namun disekolah ini, hanya beberapa yang berkeramik, itu pun keramik semen yang terkadang terkelupas disana-sini. Fasilitas sekolah kami lengkap, mau apa? Eksperimen ini dan itu semuanya bisa. Namun di sekolah ini? kau bisa menjawabnya sendiri kawan. Sekolah kami berhalaman luas, dengan indahnya bunga dimana-mana, kau bisa berlari tanpa perlu takut dengan lumpur yang akan membuat mu jatuh, tapi disini? kamu pasti iri kawan, halaman sekolahnya sangat luas, berbatas bukit-bukit, berhias indahnya tanaman bakau, dan arena bermain lumpur setiap saat bisa kami nikmati, tanpa perduli baju ini menjadi kotor.

Terserah mau menganggap ungkapan saya diatas seperti apa. Pastinya ini hanya kiasan yang mungkin sarat sindiran. Negeri ini sungguh kaya, apa yang kau mau semuanya ada. Seharusnya kau bisa makan tanpa perlu khawatir dengan tidak adanya uang dan seharusnya kau bisa bersekolah tanpa perlu khawatir dengan adanya biaya. Dilema, mungkin itu kata yang pantas mewakili semuanya. Daerah yang kaya akan sumber daya alam tak akan menjamin adanya kesejahteraan di dalamnya.

Mungkin negeri ini terlalu luas, sehingga tak seharusnya kita berpangku tangan dan menyerangkan semua urusan kepada pemerintah. Sepatutnya kita bergandengan tangan, bersatu padu untuk meningkatan kualitas pendidikan di negeri kita ini. Anak-anak akan bersekolah dengan tenang tanpa perlu takut bukunya akan basah karena terkena air dari atas atap, anak-anak akan berfikir dengan jernih tanpa perlu takut tubuhnya akan tertimpa dinding atau atap, dan anak-anak akan bersekolah dengan nyaman tanpa perlu merasa kedinginan karena udara yang masuk melalui lubang di dinding. Sehingga cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan segera tercapai. Ketercapaian tersebut bukan hanya berdasarkan parameter kelompok atau tingkat ekonomi tertentu, melainkan seluruh warga negara Indonesia, dimana pun berada dan dalam kondisi apapun.

Sunday, November 16, 2014

Bunga Rindu

Dua setengah bulan, waktu yang sebentar bagi hati yang merindu. Saat itu, mungkin saat terindah, dan ku menyesal tak sepenuhnya ku hayati semua. 

Bagai angin yang silih berganti dan meninggalkan kesan membelai tubuh. Begitu halnya dengan kau, terasa baru sebentar, membelai tubuh, menyisakan kerinduan, dan kini berpisah entah kemana.

Mungkin aku nampak gila, terus bercerita, semoga saja kau tidak bosan mendengarnya. Betul aku tidak bohong, kau menorehkan pesan yang sangat dalam, sampai saat ini, setiap ku pandang setiap memori, walau terkadang hanya membuat sesak hati, karena perpisahan itu telah terjadi.


Saat kau rangkul aku dengan semua temanmu. Kau tarik setiap sudut bajuku. Tak mau, ku selalu tinggalkan kau pergi, kau mengejar, dan kau selalu saja kembali, seakan tiada kata letih. Senyum manis itu selalu ada, menghias hati yang lelah karena urusan dunia.

Kau membuat kesal, memang. Saat ku terangkan, kau selalu asik bertengkar. Tak memperdulikan, itu selalu menjadi alasan bagiku menegurmu. Kau berlari, kesana kesini, dan tak mengindahkan perasaan hati.

Tapi tak mengapa, kesalku hanya dibibir, tak sampai hati. Hati selalu bangga dengan kau yang berjuang dengan segala keterbatasan. Berjuang meraih asa ketika yang lain sibuk berputus asa.

Teringat saat ku pulang, sehabis mengajarmu sebait pelajaran kehidupan. Kau menghalau ku, memaksa ku mendengar gurauanmu. Kau sebut dengan MOB, rakaian cerita lucu yang terkadang ku tak paham apa isinya. Namun ku paksa bibir tertawa, supaya senyummu selalu berbunga.

Terkadang saat pagi, saat kami masih sulit walau sekedar membangkitkan tubuh sendiri. Suara mu sudah terdengar. Berpakaian sekolah, berjalan sendiri, berusaha mencari rejeki dengan keranjang kecilmu. Luar biasa, salut ku selalu terbesit walau tak pernah sampai terucap.

Dan akhirnya ketika tangismu menjadi penutup kisah. Kisah yang entah bersambung atau tidak. Aku juga tak tau. Hanya air matamu dan langkah kecilmu yang selalu ku ingat. Saat kapal itu terus berlaju, tak hanya memisahkan pandangan, namun senyum dan juga hangat dekapanmu. Kini sudah tak terasa.

Kini hanya rindu yang ada, hanya keluh kesah akan perpisahan. Ya sudah tak mengapa, hanya doa, dan ku harap kau pula selalu berdoa. Supaya segera berjumpa. Yang penting kau jaga, jangan lupa…

Negeri Surga

Kurang kaya apa negara ini…?
Gugusan pulau berbalut pasir nan indah tak lekang selalu kau pandang
Kurang kaya apa negara ini…?
Hutan hijau nan rimbun selalu menyejukkan mata dan takkan membuatmu jemu
Kurang kaya apa negara ini…?
Makhluknya banyak, dan termasuk kau juga sebagai penghias negeri ini
Kurang kaya apa negara ini…?
Semuanya bisa kau makan, tanpa perduli adanya uang
Kurang kaya apa negara ini…?
Semuanya hanya bisa membuat negara lain iri


Namun apa gunanya…?
Ketika semua hanya diurus sendiri
Namun apa gunanya…?
Ketika semua diurus berdasarkan egoisme sendiri
Namun apa gunanya…?
Kepentingan negeri lain diutamakan daripada putra putrinya sendiri
Namun apa gunanya…?
Semua kau tumpuk dan menghantarkan kau sampai mati

Mungkin mereka masih bersabar…
Menahan lapar yang selalu mereka tahan
Mungkin mereka masih sabar…
Menahan air mata yang terus mengalir keluar
Mungkin mereka masih sabar…
Malam selalu gelap hanya berhiaskan bintang-bintang
Mungkin mereka masih sabar…
Menahan sakit, dan dokter pun tak kunjung datang
Mungkin mereka masih sabar…
Mengais ilmu hanya dengan bermodal perjuangan
Mungkin mereka masih sabar…
Menerima yang ada dan masih menunggu sebuah perubahan datang

Negeri ini terlalu luas dan terlalu indah
Terlalu banyak yang perlu disinggahi demi memuaskan hasrat hati
Terlalu banyak cinta yang perlu kita tebar nantinya
Terlalu banyak air mata yang perlu kita siapkan
Terlalu banyak peluh yang perlu kita bersihkan
Indonesia……  Indonesia……

Tuesday, November 4, 2014

Hari ini…

"Mungkin tak terbenam semuanya..."
Hari ini ku beranikan diri
Membatasi lisan yang dulu tak berhenti bersahut
Mewakili hati yang terlena rindu
Rasa hati yang sampai kini tak mau pergi

Hari ini kuberanikan diri
Tak sering mengingat wajah yang memeras hati
Tapi apakah sanggup, coba lihat saja nanti
Apakah raga ini kuat atau sebaiknya akan terbuai kembali

Kesan dan kenangan yang pernah terukir
Sungguh hati ini menjadikannya diluar akal
Semua yang tak biasa menjadi semakin tak biasa
Rindu bagaikan candu yang membuat indah seluruhnya

Mungkin ku berlebihan
Berlebihan dalam menguak perasaan
Entah hati yang di sana merindu atau tidak
Sungguh aku sangat peduli

Nyanyian alamnya mungkin menambah kadar candu
Semakin menghiasi wajah yang terus merona
Senyuman manis gadis yang dicinta
Membuat dunia bak laksana surga

Dan kini ku sendiri, jauh, jauh, dan jauh…
Tak melihat mu kembali, mungkin buah kekhawatiran ku
Sungguh ku merindu sangat
Padamu yang kini berada jauh